Maraknya pembakaran sampah di kawasan Jimbaran, Bali, dikeluhkan warga karena berdampak pada gangguan pernapasan hingga penyakit paru-paru, terutama pada anak-anak akibat paparan asap.
Salah seorang warga, Agatamba, yang tinggal di kawasan Pasraman Unud Jimbaran, mengaku pembakaran sampah terjadi hampir setiap hari di berbagai titik. Aktivitas tersebut bahkan kerap berlangsung di lingkungan sekolah saat jam belajar maupun di area permukiman.
"Itu hampir setiap hari, di setiap blok itu pasti ada pembakaran sampah. Terus yang berdampaknya itu kan bukan cuma aku aja ya, anak-anak kecil, karena di sini banyak anak-anak kecil," ujar pria yang dipanggil Aga itu, Kamis (16/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aga mengungkapkan pembakaran sampah ini sudah berlangsung kurang lebih setahun terakhir dan belakangan semakin marak. Hal ini berdampak pada kesehatan anaknya yang masih berusia lima tahun, yang mengalami sesak napas hingga didiagnosis menderita pneumonia sejak akhir tahun lalu.
"Nah, yang terdampak ke aku itu, pertama anakku sampai sesak napas, dan terakhir itu kena pneumonia dari tahun lalu. Gara-gara sampah ini," jelasnya.
Pada Desember tahun lalu, anaknya sempat menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Jimbaran. Pada April 2026, ia kembali melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit di Denpasar. Menurut Aga, salah satu dokter spesialis paru anak menyampaikan bahwa terdapat sekitar 24 anak lain dengan keluhan serupa.
"Tanggal 11 bulan ini, bulan April. Saya baru check up anak saya ke rumah sakit Kasih ibu khusus ke spesialis paru-paru anak. Dan rata-rata anak yang ke sana itu sama penyakitnya dengan anak saya karena pembakaran sampah. Sampai dokternya aja ngeluh," kata pria 33 tahun itu.
Selama dua bulan terakhir, anaknya harus menggunakan inhaler setiap hari untuk membantu pernapasan. Sementara itu, ia sendiri juga merasakan dampak dari asap, seperti mata perih dan napas menjadi sesak.
Agatamba menambahkan intensitas pembakaran sampah meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini berkaitan dengan tidak terangkutnya sampah secara rutin, menyusul penutupan TPA Suwung.
"Karena sampahenggak diambil. Kemarin itu sampai dua minggu enggak diambil, tapi iuran kita tetap berjalan, Kak. Setiap bulannya pembayaran sampah," keluh driver pariwisata itu.
Ia menambahkan warga sebenarnya telah berupaya memilah sampah. Namun, keterbatasan tempat pembuangan membuat pengelola kebingungan menyalurkan sampah.
Agatamba mengaku telah melaporkan berkali-kali permasalahan ini ke pihak terkait, mulai dari kepala perumahannya hingga berulang kali mencoba layanan aspirasi masyarakat Badung "Kontak Bupati", tapi belum mendapat respons.
Ia juga sempat membagikan video keluhan terkait pembakaran sampah di sekitar kawasan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Unud, Jimbaran, pada Rabu (15/4/2026) malam. Unggahan tersebut sempat mendapat perhatian warganet. Namun, saat dihubungi pihak Bendesa Adat Jimbaran belum memberikan tanggapan ataupun konfirmasi.