Amerika Serikat (AS) resmi memblokade Selat Hormuz dan memperingatkan akan menghancurkan kapal Iran yang mendekat. Langkah ini menandai eskalasi tajam konflik setelah negosiasi damai kedua pihak gagal.
Blokade mulai diberlakukan Senin (13/4) pukul 10.00 waktu setempat, dengan menghentikan seluruh kapal yang hendak melintas dari dan ke pelabuhan Iran.
"Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia," tegas Presiden AS Donald Trump kepada setelah blokade mulai berlaku Senin pukul 10 pagi waktu AS, dikutip dari detikNews, Selasa (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dikonfirmasi apakah blokade bertujuan memaksa Iran membuka selat atau mendorong perundingan, Trump menyebut keduanya.
"Kedua hal itu (yang kita inginkan), tentu saja, dan lebih dari itu," tegasnya singkat.
Pernyataan Trump di Gedung Putih muncul setelah Wakil Presiden JD Vance kembali dari Pakistan tanpa kesepakatan damai dengan Iran. Kesepakatan gencatan senjata dua minggu yang dicapai pekan lalu juga dilaporkan mulai goyah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Trump mengklaim Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, meski negosiasi di Pakistan selama akhir pekan berakhir buntu. Isu nuklir disebut menjadi kendala utama.
"Poin yang menjadi kendala adalah fakta bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," kata Trump tentang Iran.
"Kami menyetujui banyak hal, tetapi mereka tidak menyetujui hal itu, dan saya pikir mereka akan menyetujuinya. Saya hampir yakin akan hal itu. Bahkan, saya yakin akan hal itu. Jika mereka tidak setuju, tidak ada kesepakatan," katanya lagi menekankan.
Saat blokade mulai berlaku, Trump juga memperingatkan kapal serang cepat Iran agar tidak mendekati pasukan AS.
"Jika ada kapal-kapal ini yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dihilangkan," tulis Trump di Truth Social.
Trump juga menyebut militer AS mulai memblokade pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya memaksa Teheran membuka Selat Hormuz dan menerima kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari enam minggu.
"Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia karena itulah yang mereka lakukan," kata Trump tentang Iran di Gedung Putih, tempat ia mengumumkan blokade telah dimulai, dilansir AP, Selasa (14/4/2026).
Meski demikian, Trump mengisyaratkan AS tetap membuka ruang dialog.
"Saya dapat memberi tahu Anda bahwa kami telah dihubungi oleh pihak lain," kata Trump, menambahkan bahwa "mereka ingin mencapai kesepakatan."
Sebelumnya, Iran menanggapi rencana blokade tersebut dengan ancaman terhadap seluruh pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman, termasuk negara sekutu AS.
Di lapangan, setidaknya dua kapal tanker yang mendekati Selat Hormuz dilaporkan berbalik arah setelah blokade diberlakukan, menurut pelacak kapal MarineTraffic dalam unggahan di X.
Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris menyebut blokade membatasi "seluruh garis pantai Iran, termasuk pelabuhan dan infrastruktur energi." Meski begitu, kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran dilaporkan masih dapat melintas, walau berpotensi menemui kehadiran militer.
Blokade Berpotensi Berdampak Luas
Komando Pusat militer AS menyatakan blokade diberlakukan terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan serta wilayah pesisir Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman.
Keputusan tersebut dinilai sebagai pelonggaran dari ancaman awal Trump yang sebelumnya ingin menutup penuh jalur tersebut, karena kapal antar pelabuhan non-Iran masih diizinkan melintas.
Dalam pernyataan di media sosial, Trump juga mengklaim angkatan laut Iran telah "benar-benar dihancurkan" meski masih memiliki kapal serang cepat. Ia kembali memperingatkan potensi tindakan tegas.
"jika ada kapal-kapal ini yang mendekati blokade kami, mereka akan segera dihancurkan."
Sementara itu, Iran turut melontarkan ancaman balasan.
"Keamanan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah untuk semua orang atau untuk tidak seorang pun," lapor Islamic Republic of Iran Broadcasting pada hari Senin. "Sebuah pernyataan militer Iran mengatakan, "tidak ada pelabuhan di wilayah tersebut yang akan aman."
(dpw/dpw)










































