Indonesia diperkirakan akan dibayangi oleh fenomena 'Godzilla El Nino' ketika musim kemarau. Istilah ini muncul digunakan untuk menggambarkan intensitas El Nino yang sangat kuat.
Pakar dan Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Dwi Apri Nugroho, mengungkapkan El Nino pada dasarnya adalah bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung lama. Namun, perubahan iklim dan pemanasan global yang terus memburuk membuat kemunculan El Nino sulit diprediksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada suatu waktu, El Nino bisa dalam kondisi normal, tetapi ada suatu kondisi El Nino bisa menggila hingga timbul istilah 'Godzilla El Nino'. Istilah itu merujuk pada intensitas El Nino yang jauh lebih kuat dari biasanya.
Kondisi ini, menurut Bayu, akan memberikan dampak serius pada ketersediaan air. Akibatnya, akan ada satu sektor yang paling terdampak Godzilla El Nino, yakni pertanian.
"Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi," kata Bayu dikutip dari laman UGM, Kamis (2/4/2026) dilansir dari detikEdu.
Dijelaskan Bayu, komoditas pangan utama, seperti padi dan jagung, sangat membutuhkan air dalam jumlah besar untuk tumbuh. Ketika suplai air menurun, kedua tanaman tersebut tidak bisa berkembang secara optimal.
Penurunan ketersediaan air juga menyebabkan hasil panen dan kualitas produksi komoditi lain ikut terdampak. Tanaman bahkan berpotensi mengalami kerusakan permanen dan bahkan berujung gagal panen saat kondisi ekstrem.
Ketika hal itu terjadi, petani pasti akan mengalami kerugian yang cukup besar. Mengingat, biaya produksi yang telah dikeluarkan kemungkinan tidak bisa kembali menjadi keuntungan.
"Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian," jelas Bayu.
(dpw/dpw)










































