detikBali
Internasional

Israel Cegat Kardinal Saat Hendak Rayakan Misa Palma

Terpopuler Koleksi Pilihan
Internasional

Israel Cegat Kardinal Saat Hendak Rayakan Misa Palma


Haris Fadhil - detikBali

Visitors walk at the complex of Church of the Holy Sepulchre in the old city of Jerusalem on January 18, 2026. (Photo by HAZEM BADER / AFP)
Foto: Kompleks Gereja Makam Suci di Yerusalem (AFP/HAZEM BADER)
Yerusalem -

Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, dicegat memasuki Gereja Makam Suci oleh Kepolisian Israel. Padahal, Pierbattista saat itu hendak merayakan Misa Minggu Palma. Hal itu diungkapkan dalam pernyataan resmi Patriarkat.

"Pagi ini, Kepolisian Israel mencegah Patriark Latin Yerusalem, Yang Mulia Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Kepala Gereja Katolik di Tanah Suci, bersama dengan Penjaga Tanah Suci, Yang Mulia Romo Francesco Ielpo, OFM, Penjaga resmi Gereja Makam Suci, memasuki Gereja Makam Suci di Yerusalem, saat mereka hendak merayakan Misa Minggu Palma," demikian pernyataan itu dilansir dari detikNews, Minggu (29/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka dihentikan saat berjalan tanpa ciri-ciri prosesi atau upacara. Patriarkat mengatakan peristiwa ini merupakan situasi serius.

"Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, Kepala Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci. Insiden ini merupakan preseden serius dan mengabaikan kepekaan miliaran orang di seluruh dunia, yang selama minggu ini, menantikan Yerusalem," demikian pernyataan tersebut.

ADVERTISEMENT

Tidak ada tanggapan langsung dari kepolisian Israel. Sejak perang di Asia Barat pecah pada 28 Februari, otoritas Israel telah melarang pertemuan besar, termasuk di sinagoge, gereja, dan masjid.

Pertemuan publik dibatasi sekitar 50 orang. Patriarkat Latin telah mengumumkan pembatalan prosesi Minggu Palma tradisional yang biasanya berlangsung dari Bukit Zaitun ke Yerusalem dan menarik ribuan umat setiap tahunnya.

"Para pemimpin gereja telah bertindak dengan penuh tanggung jawab dan, sejak awal perang, telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan. Mencegah masuknya Kardinal dan Custos, yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi untuk Gereja Katolik dan Tempat-Tempat Suci, merupakan tindakan yang jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional," ujar Patriarkat.

Patriarkat menganggap sikap Israel tergesa-gesa. Hal itu dianggap melanggar kebebasan beribadah.

"Keputusan yang tergesa-gesa dan pada dasarnya cacat ini, yang diwarnai oleh pertimbangan yang tidak tepat, merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo," ujar kata Patriarkat.

Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!




(hsa/hsa)










Hide Ads