Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran agar membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam
Merespons itu, Rusia pun menyerukan dua hal terkait perang di Timur Tengah, yakni penyelesaian politik dan diplomatik. Rusia mendorong agar situasi di Timur Tengah mereda setelah perang yang dipicu serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam sebuah konferensi pers seperti dikutip dari detikNews, Senin (23/3/2026).
"Ini adalah satu-satunya hal yang dapat secara efektif berkontribusi untuk meredakan situasi tegang yang kini telah berkembang di kawasan tersebut," imbuh Peskov.
Rusia diketahui turut membantu membangun satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang beroperasi di Bushehr. Mereka pun telah memperingatkan serangan yang dapat membahayakan lokasi tersebut setelah terkena proyektil sebagaimana diumumkan badan pengawas nuklir PBB pekan lalu.
"Ini menimbulkan ancaman keamanan yang sangat serius jika tren ini berlanjut," kata Peskov pada Senin (16/3).
"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya dan penuh dengan konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat dipulihkan," imbuhnya. Peskov mengatakan Rusia terus berdialog dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai pembangkit Bushehr.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)










































