Panasnya tidak main-main. Di ruang pembakaran TPST Desa Kutuh, Badung, api dibiarkan menyala hingga disebut-sebut menyentuh 1.000 derajat celsius.
Di luar ruangan itu, sejumlah ibu duduk berderet dengan keranjang bambu di sampingnya. Mereka memilah sampah campur tanpa masker, hanya berbekal sarung tangan dan sepatu boots. Bau menyengat seperti sudah jadi bagian dari udara sehari-hari.
Poster standar keamanan terpampang di dinding. Namun beberapa meter dari sana, operator insinerator bekerja dengan perlindungan minim. Sarung tangan ada. Alas kaki hanya sandal jepit.
"Harusnya pakai APD lengkap sih," aku Wandri, operator insinerator yang menemani detikBali berkeliling pada Minggu (28/12/2025).
Pernah ada yang celaka. Seorang pekerja terkena semburan asap panas saat rutin mengecek pembakaran tiap lima menit. Wajahnya terdampak.
"Itu karena dia lalai saja," kata Wandri. Pekerja tersebut sudah berhenti dan pulang ke Bandung, Jawa Barat, meski sempat kembali bekerja setelah kejadian. Biaya medisnya, kata Wandri, ditanggung perusahaan.
Di dalam tungku, proses dimulai dari potongan kayu kiriman Nusa Dua. Dua jam pertama adalah fase pembakaran kering untuk menaikkan suhu. Setelah itu, sampah campur hingga 18 ton per hari dari salah satu desa di Kuta dimasukkan. Baterai, lampu, botol kaca, dan kemasan aerosol dipisahkan karena berisiko meledak. Selebihnya dibakar bersama. Organik dan anorganik menyatu dalam api.
Tak ada termometer digital yang menampilkan angka pasti. Wandri mendekatkan tangan ke mulut tungku untuk mengira-ngira suhu. "Kalau masih kuat (tangan dekat tungku), berarti masih belum 1.000 derajat celsius. Ini masih 900-an derajat celsius," tuturnya.
Dari api itu tersisa abu. Di sudut ruang pemilahan, paving block hasil olahan abu tersandar tanpa kejelasan distribusi. Program daur ulang itu tersendat karena minim tenaga kerja dan belum ada jalur pemasaran. Sementara di lahan terbuka dekat mesin, yang tersisa justru hamparan abu dan tanah kering.
Wandri sempat menyebut abu punya unsur hara baik. Tanaman melon pernah tumbuh di sana. Namun pantauan detikBali pada Minggu (28/12/2025) menunjukkan lahan itu kini gersang.
Simak Video "Video: 'Revolusi Pengelolaan Sampah' ala Walkot Solo Respati Ardi"
(dpw/dpw)