Keberadaan mesin pirolisis milik komunitas Get Plastic di Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, kini hadir sebagai solusi nyata di tengah isu hangat melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) dan persoalan gunungan sampah di Bali. Teknologi tepat guna ini mengonversi limbah plastik tak bernilai dari rumah tangga serta UMKM lokal menjadi sumber energi alternatif berupa solar dan bensin.
"Sebenarnya kami punya sesuatu yang ada di depan mata, yang jadi masalah tapi dia sebenarnya jadi solusi untuk masalah bahan bakar kita sekarang ini, sampah plastik contohnya. BBM naik dan sampah kita menggunung, tapi kami masih konsisten mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar," ujar pendiri sekaligus pegiat Get Plastic, Dimas Bagus Wijanarko saat ditemui di Learning Center Get Plastic, Badung, Jumat (12/6/2026).
Pria asal Surabaya ini sejatinya sudah khawatir atas krisis energi fosil dan penumpukan sampah sejak belasan tahun lalu lewat berbagai riset mandiri. Kesadaran tersebut muncul dari rasa prihatinnya saat melihat langsung ekosistem hutan dan gunung di tanah air yang mulai tercemar oleh serbuan sampah plastik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari tahun 2013 saya sudah melakukan riset dan meyakini bahwa kejadian melonjaknya BBM ini pasti akan terjadi. Tapi kita nggak sadar bahwa sebenarnya kita juga punya potensi sumber daya energi lain dari sampah plastik yang notabene-nya memang dibuat dari bahan bakar," kata Dimas.
Untuk kumpulan bahan baku, Get Plastic membangun sistem kemitraan dengan mengangkut sampah dari warga sekitar wilayah Desa Sibang Kaja serta kawasan Denpasar, Ubud, hingga Tabanan. Uniknya, sebagian rumah tangga yang terlibat dibekali barcode khusus agar mereka dapat memantau volume produksi sampah harian secara mandiri.
Langkah ini dinilai Dimas jadi peluang besar karena sampah yang melimpah ruah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bisa dieksplorasi layaknya tambang energi baru. Meski begitu, Bagus menekankan seluruh pengerjaan konversi ini wajib menerapkan standarisasi yang benar agar bahan bakar yang dihasilkan aman digunakan masyarakat.
"Bahasanya kalau kita mau nambang, nambang di TPA untuk menjadi bahan bakar. Tapi yang jelas dengan proses yang baik dan benar, kalau asal-asalan ya nantinya bahan bakar itu nggak bisa dipakai oleh masyarakat dan menjadi sia-sia," jelas Dimas.
Metode yang digunakan komunitas ini adalah pirolisis, sebuah teknik dekomposisi kimia atau distilasi kering menggunakan sistem pemanasan suhu tinggi mencapai 250 derajat Celsius di dalam tabung kedap udara. Proses ini diklaim ramah lingkungan lantaran murni mengandalkan energi termal untuk memotong rantai karbon, bukan lewat metode pembakaran konvensional yang memicu polusi udara.
"Jadi proses pirolisis tidak membutuhkan oksigen karena dia prosesnya bukan pembakaran, tapi lebih ke pemanasan. Sebenarnya dari proses ini tidak ada asap karena tidak terjadi pembakaran seperti kita tahu pada umumnya plastik dibakar untuk menyelesaikan masalah," papar Dimas.
Bahan bakar hasil konversi mesin pirolisis yang memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk menghasilkan 10 liter bahan bakar dari sampah plastik, Jumat (12/6/2026). (Agus Eka/detikBali) |
Kendati bebas dari asap, ia mengingatkan terdapat hal penting yang wajib diwaspadai, yakni zat cair hasil destilasi itu sendiri yang membawa kandungan racun dari material plastik awal. Atas dasar itulah, cairan minyak mentah beracun tersebut hanya dialokasikan sebagai bahan bakar mesin.
"Jadi yang bahaya dari proses ini apa sih sebenarnya? Minyaknya, karena kandungan racun yang ada di material plastik itu semuanya berubah menjadi minyak tadi," imbuhnya.
Dari segi teknis operasional, mesin pirolisis berkapasitas 10 kilogram (kg) rakitan Dimas dan kawan-kawan memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk menghasilkan 10 liter bahan bakar. Konsumsi energi pemanas tungku reaktornya pun cukup efisien karena hanya menghabiskan sekitar 3 kg gas, atau bisa disubstitusi menggunakan bio-digester, gas metana, kompor oli bekas, maupun pemanas pelet kayu.
"Kalau yang kita punya sekarang itu kapasitasnya 10 kilogram, untuk ubah plastik 10 kilo jadi 10 liter bahan bakar minyak itu kurang lebih 3 jam. Energi yang kita butuhkan kurang lebih 3 kilogram gas kalau kita pakai gas ya, karena memang kita bisa menggunakan energi apapun," terangnya.
Jumlah residu sisa proses pemanasan ini berkisar antara 5 hingga 8 persen saja, bahkan bisa nihil tergantung dari jenis karakteristik plastik yang diolah. Melalui hitungan neraca energi, biaya produksi yang dikeluarkan diklaim jauh lebih ekonomis jika disandingkan dengan harga jual BBM di pasaran saat ini.
"Kalau sampah plastik jenis polipropilen itu hampir tidak menemukan residu, jadi nggak ada residu yang dihasilkan. Kalkulasi ekonominya itu sekitar Rp 7 ribuan untuk mengolah 1 kilogram sampah plastik menjadi 1 liter bahan bakar, saya rasa lebih murah," sebut dia.
Namun, tidak semua jenis plastik bisa dimasukkan ke dalam tabung reaktor. Plastik jenis nomor 1 atau Polyethylene Terephthalate (PET) sengaja dipisahkan karena masih bernilai jual tinggi untuk didaur ulang, sedangkan jenis nomor 3 atau PVC ditolak total demi alasan keamanan lingkungan.
"Sedangkan kelas 3 jenis PVC tidak kami olah karena kandungan klorida tinggi. Itu berbahaya dan potensi merusak lingkungan juga besar, bukan tangani masalah tapi menimbulkan masalah baru," tegasnya lagi.
Hingga saat ini, Get Plastic telah berhasil mengembangkan lebih dari 10 prototipe mesin pirolisis dan menyebarkannya ke berbagai daerah di Indonesia. Khusus di wilayah Pulau Dewata terdapat tiga titik pemanfaatan mesin, sementara 40 unit lainnya tersebar di luar Bali dengan tingkat keberhasilan program mencapai 80 persen.
"Kalau di Bali itu ada sekitar tiga ya setahu saya, tiga titik. Kalau di luar Bali itu kurang lebih ada 40 lebih titik gitulah di seluruh Indonesia dan semuanya masih berjalan," ungkap Dimas Bagus.
Distribusi produk akhir berupa 90 persen solar dan bensin tersebut tidak diperjualbelikan, melainkan disumbangkan secara gratis untuk mendukung operasional masyarakat dan komunitas dampingan. Pemanfaatannya disesuaikan dengan kebutuhan wilayah setempat, mulai dari bahan bakar kapal nelayan, mesin pencacah, traktor pertanian, hingga mesin generator pembangkit listrik.
"Kayak umpamanya di teman-teman komunitas Rimba itu mereka pakai untuk mesin pencacah dan juga nelayan. Di daerah yang banyak petaninya kayak di Jogja, teman-teman menyumbangkan untuk ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk mesin pengairannya mereka atau mesin traktor," urainya.
Dimas meyakini inovasi teknologi pirolisis yang dikembangkannya selama 11 tahun terakhir ini merupakan salah satu jalan keluar paling konkret untuk memutus rantai persoalan sampah plastik di Bali. Konsep ini dinilai tuntas karena menghancurkan fisik material plastik menjadi bentuk lain, dan hasilnya bisa dimanfaatkan.
Hasil pemanfaatan untuk bahan bakar mobil, motor, kapal, mesin alat pertanian, pemanfaatan kompor dari hasil gas profilin, dan barang lain seperti media tanam, batu bata dan merchandise untuk residu yang dihasilkan, alih-alih sekadar memperpanjang umur pakainya di lingkungan.
"Kami rasa ini, benar-benar bisa selesaikan masalah sampah, dari proses ini sudah enggak ada sampah lagi yang dihasilkan, dan BBM bisa kita manfaatkan untuk keberlanjutan perekonomian. Pelaku-pelaku pirolisis juga banyak sekali, kita mungkin bisa melihat. Kita mestinya bisa berkolaborasi untuk hal yang baik," pungkas Dimas Bagus.
(nor/nor)
