Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar mencatat sebanyak 65 kepala keluarga (KK) terdampak angin kencang yang terjadi sejak Rabu (21/1/2026). Dari hasil pendataan awal, kerusakan yang terjadi masuk kategori ringan hingga sedang.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) BPBD Kota Denpasar, Puji Desrini, menjelaskan bahwa di Kelurahan Kesiman terdapat 16 KK terdampak. Sebagian besar mengalami kerusakan ringan dan satu KK mengalami kerusakan kategori sedang.
"Jumlah terdampak di Kelurahan Kesiman 16 KK. Tingkat kerusakan ringan pada atap berbahan asbes. Satu KK kategori sedang pada atap dan tembok dua bidang roboh," ujar Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RR) BPBD Kota Denpasar Puji Desrini, Senin (26/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, di Desa Kesiman Petilan terdapat delapan KK terdampak dengan kategori kerusakan ringan berupa atap genteng rusak. Selain itu, satu bangunan penyewaan garasi mobil tercatat rusak sedang.
Wilayah Sidakarya terdampak sebanyak 28 KK dan Sanur Kauh 13 KK. Tingkat kerusakan didominasi ringan dan beberapa sedang.
Terkait penyaluran bantuan sosial, BPBD Kota Denpasar mengacu pada Peraturan Wali Kota Denpasar Nomor 24 Tahun 2024. Penerima bantuan harus tercatat sebagai warga Denpasar yang memiliki KTP dan Kartu Keluarga (KK) Denpasar.
Hingga saat ini, BPBD Kota Denpasar belum menentukan tindak lanjut bantuan karena masih menunggu pengajuan proposal dari warga terdampak sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Satu Anak Tertimpa Reruntuhan
Dinas Sosial (Dinsos) Kota Denpasar kembali menyalurkan bantuan bagi warga yang terdampak angin kencang. Salah satu penerima bantuan tersebut adalah Nyoman Murni, warga Kelurahan Kesiman yang terpaksa mengungsi ke rumah kos setelah rumahnya mengalami kerusakan parah dan tidak lagi bisa huni.
Bantuan yang diterima Murni meliputi persediaan bahan makanan, perlengkapan mandi, alat tidur, hingga peralatan memasak. Ia mengaku sangat terbantu dan mengapresiasi respons cepat dari pemerintah.
"Tanggapannya luar biasa, pemerintah, wali kota responnya cepat, gercep menanggapi," ujar Murni setelah penerimaan bantuan dari Dinas Sosial Kota Denpasar pada Senin.
Murni kemudian menceritakan kembali detik-detik terjadinya cuaca ekstrem yang membuat rumahnya di Gang Buaji Indah, Kelurahan Kesiman, roboh dan menimpa anak semata wayangnya, Christine Meirusmawati (14). Saat kejadian, Christine berada di rumah sendirian.
"Biasa saya berdua. Saya ini kan kerjanya petani, berkebun. Jam satu saya pergi ke pasar, anak saya sendiri di rumah," ujar Murni.
Ia terpaksa meninggalkan anaknya sendiri di rumah demi memenuhi kebutuhan hidup. Saat kejadian, seorang tetangga menghubungi rekan Murni di pasar. Mendapat kabar tersebut, Murni langsung pulang ke rumah.
"Waktu itu tetangga saya telepon teman di pasar. Temannya panggil saya, langsung saya pulang. Anak saya sudah ditangani tetangga saya," jelas Murni.
Berdasarkan cerita Christine, saat rumah runtuh ia sempat berteriak meminta pertolongan. Namun situasi yang ricuh membuat teriakannya tidak langsung terdengar.
"Campur-campur suaranya dari sana. Jadi anak saya terabaikan beberapa saat, sampai dia keluar terseret-seret, ngerangkak, karena dia nggak kuat, kakinya sakit kan. Pintu kan saya kunci, akhirnya dia lihat tembok sudah bolong, dia inisiatif keluar," terang Murni.
Saat ini, Christine masih menjalani perawatan jalan. Kondisinya berangsur membaik, meski masih mengalami luka luar dan nyeri akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
"Ada nyeri di punggungnya, lukanya masih agak basah, terus kakinya agak kaku. Yang paling berat traumanya. Sampai nggak mau kemana-mana, ketemu orang, takut ditanya-tanya, terus inget kejadiannya, nangis," kata Murni.
(nor/nor)










































