detikBali

Mesin Penyedot Air Bypass Ngurah Rai Dicuri Dua Kali, Tak Bisa Beroperasi

Terpopuler Koleksi Pilihan

Mesin Penyedot Air Bypass Ngurah Rai Dicuri Dua Kali, Tak Bisa Beroperasi


Maria Christabel DK - detikBali

Suasana Jalan Raya Sunset Road hingga Bypass Ngurah Rai sore hari menjelang malam Tahun Baru 2026, Bali (31/12/2025). Rizki
Foto: Rizki Setyo Samudero/detikBali)
Denpasar -

Panel listrik mesin penyedot air di Jalan Bypass Ngurah Rai diketahui telah dicuri sebanyak dua kali sejak tahun lalu. Akibat pencurian tersebut, mesin penyedot air tidak dapat beroperasi hingga kini.

Dinas PUPR Kota Denpasar tengah mengajukan pengadaan mesin baru berikut genset untuk perbaikan sistem penyedotan air di kawasan tersebut.

"Sedang diupayakan itu, pengadaan genset dan perbaikan panelnya. Kita sudah anggarkan itu, tinggal tunggu ketok palu aja," ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Denpasar, Artha Jaya, saat ditemui tim detikBali, Senin (19/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jaya menjelaskan, terdapat dua mesin penyedot air senilai Rp 4 miliar yang seluruhnya berlokasi di Jalan Kanda. Mesin tersebut dinilai paling efektif untuk jalur pembuangan air di kawasan Bypass Ngurah Rai.

ADVERTISEMENT

"Yang dicuri memang itu aja. Panel listrik itu yang ada harganya," jelas Jaya saat menyinggung pencurian panel listrik mesin penyedot air tersebut.

Matinya mesin penyedot air ini berdampak langsung terhadap aliran air di kawasan Bypass Ngurah Rai. Beberapa waktu lalu, sejumlah titik di jalan tersebut dilaporkan mengalami genangan air saat hujan turun.

Wilayah terdekat lain yang turut terdampak genangan air yakni Jalan Bumiayu. Hingga saat ini, Jaya menyebutkan solusi paling optimal yang dilakukan Dinas PUPR adalah penyedotan air secara mobile atau berpindah-pindah sesuai kebutuhan lokasi.

"Pompa kita berfungsi kok. Malah teratasi. Tapi istilahnya kita kan harus ke sana dulu," kata Jaya.

Ia juga menyinggung rencana lain untuk mengatasi genangan air di wilayah Sanur. "Kita mengupayakan pembuatan rumah pompa kok nanti di Bumiayu," tambahnya.

Terkait saluran air yang dinilai masyarakat tidak berfungsi, Jaya menilai kondisi tersebut justru mempermudah kegiatan operasional Dinas PUPR.

"Itu dibuatkan saluran air biar mempermudah kita. Saluran itu sebenarnya kemarin elevasinya nggak bagus. Sekarang dengan adanya itu, jadi tertata rapi. Saluran itu udah terkoneksi semua. Kok banjir memang kondisi air laut naik," jelasnya.

Genangan air di wilayah Sanur, khususnya Jalan Bumiayu, diketahui telah terjadi sejak lama. Menurut Jaya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh intensitas hujan, naiknya permukaan air laut, serta risiko wilayah cekungan di kawasan perumahan Bumiayu yang membuat genangan mudah terjadi.

Jaya mengakui keluhan warga kerap muncul, tidak hanya terkait genangan air, tetapi juga suara bising mesin penyedot air yang dinilai mengganggu aktivitas masyarakat.

"Kita pakai curi-curi waktu, mereka (masyarakat sekitar) tidur kita tungguin pompa. Karena pompa nggak bisa ditinggal. Kemasukan sampah, mengkerut. Harus dimatikan dulu, bersihkan sampahnya," terang Jaya.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads