detikBali

Merekam Kota Lewat Sketsa

Terpopuler Koleksi Pilihan

Merekam Kota Lewat Sketsa


Gangsar Parikesit - detikBali

Beragam sketsa yang ditampilkan dalam pameran sketsa bertajuk “Story of Indonesia” di Masa-Masa, Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2026).
Beragam sketsa yang ditampilkan dalam pameran sketsa bertajuk "Story of Indonesia" di Masa-Masa, Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2026). Foto: Gangsar Parikesit/detikBali
Gianyar -

Sketsa sebuah buldoser biru yang tengah menggaruk pasir di Pantai Matahari Terbit menarik perhatian Satya Nugraha. Pria berusia 28 tahun itu lalu memperhatikan sketsa lain yang menggambarkan gerobak kopi berkelir hijau dengan payung payung biru. Di samping gerobak tersebut terdapat kursi dengan payung merah. Kedua sketsa tersebut dibuat di Pantai Matahari Terbit, Denpasar, Bali, pada Senin (12/5/2025).

Menurut Satya, sketsa buldoser dan gerobak kopi itu menggambarkan perubahan di Pantai Matahari Terbit. Kini, objek wisata untuk melihat matahari terbit itu dijejali coffee shop maupun gerobak kopi atau kopi keliling (biasanya menggunakan sepeda listrik). "Saya merasakan sendiri perubahan di Pantai Matahari Terbit," tutur pria yang bekerja sebagai data entry di sebuah agen perjalanan wisata di Pantai Matahari Terbit itu kepada detikBali, Sabtu (17/1/2026).

Sketsa buldoser dan gerobak kopi di Pantai Matahari Terbit itu merupakan salah satu sketsa yang ditampilkan dalam pameran "Story of Indonesia". Pameran tersebut dihelat oleh Urban Sketchers (USK) Bali di Masa-Masa, Gianyar, Bali, sejak Sabtu (22/11/2025) hingga Sabtu (17/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebanyak 331 sketsa dan 71 buku sketsa dari 102 sketcher (pelukis sketsa) ditampilkan dalam pameran tersebut. Sketsa yang ditampilkan dalam pameran itu beragam mulai dari bangunan seperti gedung, kendaraan, makanan, jembatan, sawah, hingga aktivitas manusia seperti jual-beli di warung kaki lima.

Sketsa lain yang merekam histori Kota Denpasar adalah karya Niko Wiratama. Ia membuat sketsa hitam putih reruntuhan bangunan di tepi Tukad (sungai) Badung, Denpasar, akibat banjir pada September 2025. Saat itu, Bali dilanda banjir dan mengakibatkan belasan orang tewas.

ADVERTISEMENT
Pendiri Urban Sketchers Bali Rudy Nurdiawan atau Rudy AO di Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2026).Pendiri Urban Sketchers Bali Rudy Nurdiawan atau Rudy AO di Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2026). Foto: Gangsar Parikesit/detikBali


Pendiri USK Bali, Rudy Nurdiawan, menuturkan membuat sketsa seperti merekam riwayat kota. Contohya, sketcher membuat sketsa sebuah gedung pada waktu tertentu, tapi gedung tersebut suatu saat bisa hilang karena dibongkar atau berubah fungsi. "Jadi, kami ini kayak wartawan tapi merekam dengan sketsa," tutur pria yang berprofesi sebagai DC cover artist itu.

Menurut Rudy AO, sapaan Rudy Nurdiawan, sketsa yang baik harus dilengkapi dengan keterangan apa, kapan, dan di mana karya tersebut dibuat. Bahkan, lebih baik lagi jika pelukis sketsa membubuhkan keterangan apa yang dirasakannya saat membuat sketsa tersebut. "Jurnal dalam bentuk sketsa itu esensi dari urban sketchers," ujar pria berusia 56 tahun itu.

Alat-alat yang digunakan oleh pelukis sketsa untuk membuat sketsa antara lain water color, tinta, dan pensil. Pembuat sketsa biasanya menuangkan karyanya di buku sketsa atau selembar kertas.

Rudy AO tidak khawatir pelukis sketsa akan hilang seiring berkembangnya akal imitasi (AI). Sebab, sketsa yang dibuat oleh para sketcher bukan produk digital yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Selain itu, pembuat sketsa justru mengejar histori suatu tempat atau merekam perjalanan suatu lokasi. "Kami juga nggak mengejar sketsa yang dibuat harus mirip dengan objeknya," tegasnya.

Salah satu sketcher, Chike Tania, mengatakan membuat sketsa bukan sekadar hobi, melainkan merekam perjalanan. "Semangat dari membuat sketsa itu merekam dan berbagi, ya mirip dengan jurnalistik," tutur anggota USK Bali tersebut.

Beragam sketsa di pameran bertema Beragam sketsa di pameran bertema "Story of Indonesia" di Gianyar, Bali, Sabtu (17/1/2026). Sebanyak 331 sketsa dan 71 buku sketsa dari 102 sketcher ditampilkan dalam pameran itu. Foto: Gangsar Parikesit/detikBali

Salah satu karya Tania yang ditampilkan dalam pameran "Story of Indonesia" adalah sketsa sebuah warung tenda dengan pengunjungnya. Sketsa berwarna tersebut dibuat pada Kamis (25/9/2025) malam. Karya lain Chike yang ditampilkan adalah sketsa dua pekerja pria di warung babi guling Dauh Tungkub. Sketsa itu dibuat pada Sabtu (05/04/2025) di buku sketsa.

Urban sketchers, Tania melanjutkan, harus menggambar langsung di lokasi. Mereka biasanya punya waktu satu jam untuk mensketsa sebuah objek. Setelah itu, para pelukis sketsa menaruh karyanya di bawah dan menceritakan sketsa tersebut.

Bagi Tania, membuat sketsa merupakan meditasi. Sebab, ilustrator tersebut harus fokus sekitar 60 menit terhadap sebuah objek yang akan dibuat sketsanya. "Ketika duduk dan menggambar (membuat sketsa), ingatan akan tempat itu lebih menempel di kepala," ungkapnya.




(gsp/hsa)











Hide Ads