detikBali

Musim Tanam Perdana, Petani Jatiluwih Diguyur 22 Ton Pupuk

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Musim Tanam Perdana, Petani Jatiluwih Diguyur 22 Ton Pupuk


I Dewa Made Krisna Pradipta - detikBali

Pembagian pupuk kepada petani dari tujuh tempek subak di kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. (Foto: Istimewa)
Pembagian pupuk kepada petani dari tujuh tempek subak di kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. (Foto: Istimewa)
Tabanan -

Manajemen Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih menyalurkan 22,8 ton pupuk kepada para petani memasuki musim tanam perdana pada Januari 2026. Penerima pupuk tersebut meliputi para petani dari tujuh tempek (kelompok) subak yang berada di kawasan Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali.

"Kami ingin memastikan petani memiliki cadangan yang cukup, sehingga setiap tempek kami berikan kelebihan pupuk sebesar 10 kilogram dari perhitungan standar luasan mereka," ujar Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna alias John, Senin (12/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

John mengungkapkan manajemen DTW telah menyalurkan pupuk sebanyak tiga kali, yakni pada 30 Desember 2025, 31 Desember 2025, dan 6 Januari 2026. Menurutnya, bantuan tersebut untuk memastikan ketersediaan nutrisi padi demi menjaga kualitas beras merah khas Jatiluwih yang telah mendunia.

Menurut Jhon, luas lahan sawah yang mendapatkan bantuan kali ini mencapai 227,41 hektare. Ia menegaskan distribusi pupuk dilakukan secara proporsional berdasarkan perhitungan luas wilayah masing-masing tempek.

ADVERTISEMENT

John merinci tujuh tempek yang menerima bantuan pupuk tersebut, yakni Subak Gunung Sari sebanyak 4,859 ton, Subak Kedamaian 2,216 ton, Subak Besikalung 3,763 ton, Subak Kesambi 1.396 ton, Subak Umakayu 2,204 ton, Subak Telabah Gede 6,51 ton, dan Subak Umaduwi 1,863 ton.

"Pemberian bantuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari sinergi antara sektor pariwisata dan pertanian. Sebagai kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO, Jatiluwih sangat bergantung pada keberlangsungan sistem Subak," imbuhnya.

Menurutnya, pariwisata di Jatiluwih berkembang karena peran petani dalam menjaga sawah warisan leluhur mereka. Manajemen DTW, dia berujar kewajiban mendukung kebutuhan sarana produksi para petani, terutama pupuk.



(iws/iws)










Hide Ads