detikBali

Dinkes Tetap Siaga meski Belum Ada Kasus Super Flu di Bali

Terpopuler Koleksi Pilihan

Dinkes Tetap Siaga meski Belum Ada Kasus Super Flu di Bali


Sui Suadnyana, Hani Sofia Muthmainnah - detikBali

Sick adult woman coughing covering mouth with tissue sitting on a couch at home
Foto: Ilustrasi flu. (Getty Images/iStockphoto/Pheelings Media)
Denpasar -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali memastikan kasus infeksi influenza A (H3N2) subclade K atau super flu belum ditemukan di Pulau Dewata. Meski demikian, Dinkes Bali sudah bersiaga jika seandainya kasus ditemukan di Bali.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengadaan Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan telah mempersiapkan fasilitas serta tenaga kesehatan. Kesiapsiagaan ini didapat dari pengalaman tenaga kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Kami akan selalu siap menghadapi kejadian influenza karena sudah pengalaman Covid-19," kata Susanti saat saat dihubungi detikBali, Sabtu (3/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Susanti menegaskan hingga saat ini belum ada surat edaran maupun sosialisasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait super flu tersebut. Susanti meminta masyarakat untuk tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi yang diberikan oleh pemerintah jika kasus ditemukan di Bali.

ADVERTISEMENT

Diberitakan sebelumnya, Kemenkers melaporkan infeksi influenza A (H3N2) subclade K atau super flu sudah tercatat di Indonesia per 25 Desember 2025. Data pemeriksaan whole genome sequencing (WGS), terdapat 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi.

"Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A (H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan," kata Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, dilansir dari detikHealth.

Meski termasuk bagian dari flu musiman, spesialis paru Rumah Sakit (RS) Paru Persahabatan, Agus Dwi Susanto, mengingatkan influenza A (H3N2) subclade K ini memiliki karakter mutasi yang berbeda dan cenderung lebih agresif saat menginfeksi tubuh.

Subclade K, jelas Agus, memiliki sifat lebih agresif yang dipicu beberapa faktor. Laju replikasi varian ini lebih cepat dalam saluran napas sehingga meningkatkan jumlah virus yang diproduksi.

Di samping itu, subclade K memiliki inkubasi lebih cepat sehingga gejala lebih cepat muncul. Secara klinis, pasien Subclade K sering kali mengalami gejala yang cukup berat dibandingkan flu biasa dan COVID-19.

"Seperti demam tinggi (39-41 derajat Celsius); nyeri otot yang berat; kelelahan/lemas ekstrem; batuk kering; sakit kepala dan tenggorokan yang berat. Sedangkan flu biasa dan COVID yg saat ini gejalanya ringan sampai sedang," tutur Agus.




(hsa/hsa)











Hide Ads