Jadi Pembicara di Jeju Korsel, Megawati Beberapa Kali Menahan Tangis

Jadi Pembicara di Jeju Korsel, Megawati Beberapa Kali Menahan Tangis

Tim detikNews - detikBali
Jumat, 16 Sep 2022 05:51 WIB
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi keynote speaker di Forum for Peace and Prosperity 2022, Jeju, Korea Selatan.
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menjadi keynote speaker di Forum for Peace and Prosperity 2022, Jeju, Korea Selatan. (Foto: Eva Safitri/detikcom)
Bali -

Megawati Soekarnoputri beberapa kali terlihat menahan tangis saat menjadi pembicara di Forum for Peace and Prosperity 2022. Presiden ke-5 RI itu hadir sebagai salah satu pembicara dalam forum yang digelar di International Convention Center (ICC), Jeju, Korea Selatan, Kamis (15/9/2022).

Dilansir dari detikNews, Megawati sempat berhenti untuk menahan tangis di tengah pidatonya. Salah satunya adalah ketika Megawati bicara perdamaian.

"Perdamaian abadi merupakan salah satu tujuan bernegara bangsa Indonesia. Kami memiliki credo: (menahan tangisan) bahwa sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," katanya.


"Perdamaian dunia hanya dapat diwujudkan, apabila setiap negara menghormati kedaulatan suatu negara dan menjunjung tinggi kemanusiaan-keadilan dalam sistem internasional; serta mengedepankan penyelesaian konflik melalui perundingan," lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati dalam pidatonya juga sempat merefleksikan sejarah negara-negara yang terpecah dalam dua blok. Dia menilai bangsa Asia dan Afrika saat itu memberikan kontribusi dengan melakukan konferensi.

"Belajar dari sejarah, ketika dunia terbagi dalam dua blok yang saling bertikai, bangsa Asia dan Afrika bangkit memberikan kontribusi penting dengan konferensi yang sampai hari ini belum ada lagi yaitu Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok yang menjadi jawaban terhadap Perang Dingin," ujarnya.

Megawati tampak kembali menahan tangisnya saat bicara terkait adanya konferensi yang menjadi solusi perang dingin dari negara-negara yang terpecah dalam dua blok saat itu.

"Spirit konferensi menurut saya (menahan tangis) tetap relevan hingga saat ini. Spirit tersebut menjadi jembatan perdamaian dan terciptanya solidaritas antarbangsa untuk bersatu mengakhiri segala bentuk perang dan tindakan kekerasan," ujarnya.

Megawati kemudian mengutip pernyataan Presiden ke-1 Soekarno terkait perdamaian dunia. Ia juga bicara soal pentingnya penguatan bagi PBB.

"Dalam pidato beliau di PBB pada tahun 1960, yang dikenal dengan To Build The World A New, Bung Karno menyerukan pentingnya penguatan kewenangan PBB di dalam menciptakan perdamaian. Saya ingat pada waktu itu, beliau mendapatkan standing aplause (tepuk tangan berdiri) menurut saya apa arti daripada pidato tersebut. Artinya secara naluri kemanusiaan sebenarnya semua setuju akan bunyi pidato tersebut," ujarnya.

"Syaratnya, PBB harus melakukan reformasi internal, dengan menempatkan setiap anggota PBB memiliki kedudukan yang sama dan sederajat, tanpa adanya preferensi hak veto," lanjut Megawati.



Simak Video "Megawati Soroti Kasus Kopda Muslimin: Ironis Banget!"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)