Megahnya Patung Buddha di Vihara Empu Astapaka Gilimanuk

i Ketut Suardika - detikBali
Minggu, 15 Mei 2022 15:30 WIB
Patung Buddha Vihara Empu Astapaka, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali Minggu (15/5/2022)
Patung Buddha Vihara Empu Astapaka, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali Minggu (15/5/2022). Foto: I Ketut Suardika/detikBali
Jembrana -

Setiap masuk Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, warga pasti melihat patung menjulang tinggi. Bahkan, saking tingginya, patung berwarna putih itu bisa dilihat dari atas kapal tengah laut selat Bali.

Patung putih itu, merupakan patung Buddha. Berada di Vihara Empu Astapaka, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, sekitar 100 meter dari Pelabuhan Gilimanuk, tepat di sisi kiri jalan arah Gilimanuk-Denpasar.

Ketua Umum Yayasan Empu Astapaka, Pandita Sudiarta Indrajaya menyampaikan, Patung tersebut dibangun oleh umat Buddha selama enam tahun, terhitung sejak 2007, dan diresmikan tahun 2013 dengan biaya pembangunan sekitar Rp 1 miliar yang merupakan sumbangan dari para umat.


"Pembangunan membutuhkan waktu sekitar 6 tahun, dari awal peletakan batu pertama tahun 2007, ukuran tinggi dari tanah 25 meter dan selesai pada tahun 2012. Kemudian peresmian pada 6 Juni 2013," terang Pandita Indrajaya saat dikonfirmasi detikBali, Minggu (15/5/2022).

Patung dibangun di areal vihara yang juga sebagai salah satu vihara tertua di Bali. Dibangun sekitar tahun 1970 oleh sejumlah umat Buddha yang datang ke Bali melalui Pelabuhan Gilimanuk.

Lokasi tempat dibangunnya vihara disebut sebagai tempat yang paling cocok di bangun vihara, karena berada di pintu masuk Bali lewat Penyeberangan selat Bali.

"Sikap berdiri dengan kedua tangan di dada disebut sikap abaya mudra. Sikap itu artinya, tentang hukum karma. Memiliki pesan jangan takut, jangan gentar, tidak akan terjadi sesuatu pada diri kalau bukan hasil perbuatan sendiri," ujarnya.

Disamping itu, sikap abaya mudra itu berarti untuk bapak juga. Artinya mendoakan keselamatan, mendoakan setiap yang berlalu lintas di Selat Bali diberkahi keselamatan dan keberkahan.

"Kadang ada orang yang takut menyeberangi laut, karena khawatir ada musibah. Jadi, semestinya jangan khawatir, tetap tenang," ucapnya.

Patung Buddha Vihara Empu Astapaka juga sebagai perlambang selamat datang di pulau Bali sebagai pulau Dharma. Sebagai pulau yang masyarakatnya sangat mencintai kebenaran, menghargai perbedaan, penuh toleransi dan cinta kedamaian.

"Kehadiran Patung Siwa Mahadewa disisi pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk, di utara Vihara Empu Astapaka juga menunjukkan Bali sebagai pulau yang harmoni. Selaras dengan Sejarah peradaban Nusantara," terang Indrajaya.

Disamping itu, kata Indrajaya, Patung Buddha itu tidak hanya tempat ibadah umat Budha, tetapi bisa juga tempat singgah warga dan wisatawan yang melintas di kawasan Gilimanuk.

"Ada Balai pesandegan atau tempat istirahat karena orang yang mau mudik atau datang dari jauh ngajak orangtua, kan bisa mampir dulu. Ada toilet disiapin, halaman luas untuk istirahat," jelasnya.

Dipilihnya Nama Empu Astapaka oleh para tetua, lanjut Indrajaya, Vihara Empu Astapaka yang didirikan tahun 1970 an ini, sebagai rasa hormat dan bakti kepada Seorang Empu yang datang ke Bali memperkuat nilai nilai keagamaan dan juga persaudaraan serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Jika dikaitkan dengan konteks kekinian sangat tepat dengan tema moderasi kehidupan beragama yang dicanangkan kementerian agama. Sejarah mencatat di Bali banyak terdapat tempat tempat Suci yang mencerminkan betapa tingginya nilai peradaban, "moderasi" kehidupan beragama," tukasnya.



Simak Video "Pelabuhan Gilimanuk Ditutup, Antrean Kendaraan Capai 2 Km"
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)