Anak-anak tak hanya bisa bermain setelah berolahraga di Subak Sembung, Denpasar. Di kawasan tersebut, ada agrowisata-edukasi Tupai Emas yang mengajak mereka belajar berkebun, mengenal hewan hingga mengolah sampah.
Agrowisata-edukasi Tupai Emas berada di Subak Uma Palak Sembung, Peguyangan, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali. Tempat seluas 13 are itu menjadi salah satu destinasi bagi murid PAUD/TK, SD, SMP hingga mahasiswa untuk mengenal pertanian dan berbagai jenis hewan yang mudah dirawat.
Pengelola Tupai Emas, Wayan Yuliartana (56), mengatakan tempat tersebut dikelolanya sendiri dengan dibantu beberapa keluarga dan warga sekitar. Tujuannya untuk mengenalkan kembali sistem pertanian, berbagai jenis hewan mulai unggas, reptil hingga mamalia, serta cara mengelola sampah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi salah satunya kita menyediakan beberapa program untuk anak-anak sekolah, memberikan pelatihan motorik supaya dia tahu bagaimana orang menanam hingga pengenalan hewan-hewan termasuk sampah," jelas Wayan Yuliartana, Sabtu (26/9/2026).
Menurut Wayan, anak-anak juga diajak mengenal proses menanam dan kondisi cuaca yang memengaruhi pertanian. Suasana terbuka dan tenang di sekitar Subak Sembung menjadi bagian dari pengalaman belajar tersebut.
"Di sini, dia dikenalkan cara menanam, menghadapi cuaca saat menanam, mengolah sampah dengan baik, mengenal jenis-jenis hewan. Jadi tujuannya, anak-anak itu kita ajarkan kedisiplinan dan kejujuran, kita kasih materi supaya dia bisa berkualitas, mengamati (materi)," terangnya.
Untuk sekolah negeri di Kota Denpasar, Wayan mengaku tidak mengenakan biaya kunjungan. Sementara sekolah swasta dikenakan tarif tertentu. Adapun pengunjung umum yang datang bersama keluarga hanya dikenakan tarif Rp 2 ribu.
"Kalau kita bicara keuntungan, engga ada untungnya. Beberapa tim melakukan sumber edukasi. Keuntungan, ya untuk biaya pakan hewan aja. Untung untuk mendapatkan hasil yang seperti diinginkan engga ada," ungkapnya.
"Kita melihat dari sisi sosial masyarakat, saya menyediakan tempat ini tetapi kadang masyarakatnya engga paham harus bayar, 2 ribu aja bertolak belakang," keluh Wayan Yuliartana.
Meski tidak mengetahui jumlah pengunjung setiap hari, Wayan mengatakan Tupai Emas ramai pada akhir pekan. Kunjungan biasanya terjadi pada Sabtu pagi serta Minggu pagi dan sore.
Suasana agrowisata-edukasi Tupai Emas di Subak Uma Palak Sembung, Peguyangan, Denpasar Utarai, Sabtu (26/9/2026). Foto: Ahmad Firizqi Irwan/detikBali |
"Kalau kita ramainya di weekend, satu minggu kita ramainya. Sabtu pagi, kalau minggu pagi dan sore. Kalau hari-hari biasa engga begitu, karena pada aktivitas, orang-orang pada bekerja," ungkapnya.
Wayan berharap pemerintah daerah mendukung kegiatan agrowisata-edukasi tersebut. Ia juga membuka kesempatan bagi sekolah yang ingin menjadikan Tupai Emas sebagai ruang belajar di alam terbuka.
"Kalau sekolah mau melakukan komunikasi dengan kami, kami dukung. Tidak harus berbayar. Anak-anak kan (punya) program berkelanjutan (belajar), jadi tetap jalan. Tingkat TK, SD sampai SMP ada. Kalau universitas, dia penelitian sama PKL," imbuhnya.
"Kita berharap, pemerintah bisa mendukung ini. Karena sejauh ini belum ada dukungan. Jadi, anak-anak negeri itu engga kebingungan cari tempat untuk edukasi berkelanjutan itu harus kemana," harapnya.
Jadi Penghasilan Tambahan Petani
Selain menjadi ruang edukasi, keberadaan jogging track di Subak Sembung juga menjadi peluang bagi petani dan warga sekitar untuk mendapat penghasilan tambahan.
Pantauan detikBali, sejumlah petani menjajakan sayuran hasil kebun kepada pengunjung yang berolahraga atau berjalan-jalan di persawahan. Warga lainnya menjual minuman, makanan ringan hingga makanan berat seperti tipat contong dan rujak.
Wayan mengatakan kegiatan tersebut dapat menjadi pekerjaan sampingan bagi petani yang tidak terlalu aktif di sawah.
"Petani tetap melakukan aktivitasnya. Selain dengan kondisi sekarang, kami mengajak beberapa orang untuk mendukung kegiatan ini. Ya profesi sampingan. Jadi ada petani yang tidak terlalu aktif di sawah, ada waktu dia bisa membantu kami, secara tidak langsung mereka ada kerjaan tambahan," terangnya.
Wayan berharap keberadaan Tupai Emas dapat memberikan dampak positif bagi warga sekaligus membuat lahan pertanian tetap digarap secara berkelanjutan.
"Ada dampak yang positif. Ini yang membuat bisa optimis ada bantuan dari pemerintah," pungkasnya.
