Dunia seni Indonesia kehilangan salah satu sosok yang selama puluhan tahun mewarnai musik, tari, dan panggung pertunjukan Tanah Air. Guruh Soekarnoputra, adik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, meninggal dunia pada Sabtu (26/9/2026).
Guruh pergi setelah meninggalkan jejak panjang sebagai seniman serba bisa sekaligus politikus. Karya-karyanya membentang dari musik pop, tari, hingga pertunjukan kolosal yang memadukan akar budaya Indonesia dengan sentuhan modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari dokumen ANRI Arsip Guruh Sukarnoputra, Muhammad Guruh Irianto Sukarno Putra atau Guruh Soekarnoputra dikenal sebagai seniman serba bisa dan politikus Indonesia.
Guruh lahir di Istana Merdeka, Jakarta, pada 13 Januari 1953. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Presiden pertama RI Sukarno dan Fatmawati.
Bakat Seni Tumbuh Sejak Kecil
Kecintaan Guruh terhadap seni tumbuh sejak usia dini. Sejak lepas usia balita, ia sudah mempelajari berbagai tarian tradisional seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Minang.
Saat bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Perguruan Cikini, Guruh kerap tampil di TVRI memainkan piano untuk mengiringi teman-temannya. Ia juga tampil bersama kelompok musik yang dibentuknya.
Guruh menuntaskan pendidikan SR hingga SLTA di Perguruan Cikini. Saat lulus SR pada 1965, ia meraih predikat Bintang Pelajar karena nilai-nilainya yang mendekati sempurna.
Di tengah perjalanan seninya, Guruh sempat menempuh pendidikan selama tiga tahun di jurusan Arkeologi, Universiteit van Amsterdam, Belanda.
Menekuni Tari dan Musik
Pada periode 1969-1972, Guruh memperdalam seni tari dan karawitan tradisional Bali serta Jawa kepada sejumlah maestro, seperti I Wayan Diya, I Wayan Rindi, Ni Ketut Reneng, I Nyoman Kakul, I Gusti Kompyang Raka, Anak Agung Gde Ngurah Mandera, I Made Gerindem, dan Raden Ayu Laksminto Rukmi.
Ia juga memperdalam pengetahuan musik di bawah bimbingan komponis Indonesia, Mochtar Embut dan Ismail Marzuki.
Saat berkuliah di Amsterdam pada 1973-1974, Guruh aktif menjadi anggota sekaligus pengajar gamelan Jawa/Bali di Tropen Museum. Ia juga mengajar tari Bali dalam organisasi mahasiswa CREA di Universiteit van Amsterdam.
Guruh Gipsy dan Eksperimen Musik
Sekembalinya dari Belanda pada 1975, Guruh melakukan eksperimen dengan memadukan musik gamelan Bali dan musik pop/rock Barat. Eksperimen itu kemudian melahirkan album Guruh Gipsy yang didukung musisi seperti Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman.
Album tersebut tercatat sebagai salah satu tonggak musik pop Indonesia berkat eksplorasi bunyi dan liriknya yang bermuatan kritik sosial.
Lagu ciptaannya, Renjana, memenangkan Festival Nasional Cipta Lagu Populer Indonesia pada 1976 dan mewakili Indonesia di World Popular Song Festival di Tokyo, Jepang.
Lagu Kembalikan Bali Padaku yang dinyanyikan Jopie Latul pada 1987 juga sukses di festival nasional dan mewakili Indonesia di Tokyo.
Guruh menciptakan sejumlah lagu yang kemudian dikenal luas, seperti Galih dan Ratna, Gita Cinta, Anak Jalanan, Lenggang Puspita, Sendiri, dan Marlina.
Lagu-lagu lain yang dikenal dari karya Guruh antara lain Kala Sang Surya Tenggelam yang dibawakan Chrisye, Zamrud Khatulistiwa, Melati Suci, dan Candu Asmara.
Guruh juga merilis album campur sari bertajuk Candu Asmara pada 1998. Album lainnya antara lain Puspa Ragam Karya dan Gilang Indonesia Gemilang.
Dari Musik ke Layar Lebar
Jejak Guruh tak berhenti di dunia musik. Ia menjadi penata musik sejumlah film layar lebar, seperti Ali Topan Anak Jalanan (1977), Gita Cinta dari SMA (1979), dan Jakarta (1988).
Di dunia akting, Guruh pernah memerankan tokoh Sunan Muria dalam film Wali Songo (1985).
Swara Maharddhika dan Panggung Kolosal
Guruh kemudian membawa gagasan seninya ke panggung pertunjukan. Ia mendirikan organisasi pemuda Swara Maharddhika pada 27 Maret 1977 sebagai wadah kreativitas remaja dan eksperimen seni yang memadukan tari tradisional Indonesia dengan tari modern Barat.
Pada 1979, ia mendirikan grup kesenian Swara Maharddhika dan kemudian melahirkan Gencar Semarak Perkasa (GSP) Production.
Melalui kelompok tersebut, lahir sejumlah pertunjukan tari dan pergelaran panggung kolosal yang memadukan budaya Indonesia dengan kemasan modern. Salah satunya adalah pergelaran Untukmu Indonesiaku!
Karya-karya Guruh Soekarnoputra berlandaskan pada penanaman akar seni dan budaya tradisional Indonesia yang dikemas modern, komunikatif, serta sarat pesan nasionalisme dan patriotisme sesuai amanat sang ayah, Bung Karno.
Kini, panggung itu telah kehilangan salah satu sosok pentingnya. Guruh Soekarnoputra telah pergi, tetapi karya-karyanya di musik, tari, dan seni pertunjukan akan terus menjadi bagian dari perjalanan seni dan budaya Indonesia.
(dpw/dpw)