Siapa sangka sepotong singkong dan rumput laut bisa menjadi penyelamat lingkungan sekaligus perekonomian. Bukan lagi sekadar bahan pangan, keduanya kini dikembangkan menjadi bahan baku plastik ramah lingkungan.
Melalui Baiyo, sebuah startup berbasis di Bali, Willy dan timnya mencoba menyediakan solusi dari kenyataan pahit industri plastik nasional. Di tengah tensi geopolitik global yang memicu kenaikan harga minyak mentah, industri plastik ikut terdampak. Ironisnya, bahan baku plastik di Indonesia hingga kini masih hampir sepenuhnya bergantung pada impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO Baiyo, Willy D. Liusan, mengatakan hampir seluruh bahan baku plastik di Indonesia masih didatangkan dari luar negeri.
"Bahan-bahan plastik itu hampir 100 persen impor, sekitar 3,8 juta ton berdasarkan data 2025. Sebagian besar berasal dari Malaysia dan negara-negara Timur Tengah. Itu salah satu alasan kami mengembangkan Baiyo," ujar Willy saat ditemui di Denpasar, Sabtu (17/4/2025).
Ketertarikan Willy terhadap pengembangan plastik ramah lingkungan bermula saat ia belajar budidaya rumput laut yang membawanya bertemu Yayasan Kalimajari yang telah lebih dulu meneliti bioplastik. Dari sana, ia tertarik mengembangkan penelitian tersebut ke tahap industri yang lebih besar.
Perjalanan Baiyo dimulai pada 2021. Penelitian dilakukan bersama Prof. I Made Joni. Rentetan kegagalan menjadi hal biasa di dalam laboratorium. Menemukan formula plastik alternatif yang kokoh, elastis, dan ramah lingkungan rupanya jauh lebih rumit.
Awalnya, mereka fokus mengembangkan plastik berbahan rumput laut. Namun setelah mempertimbangkan realitas pasar, biaya produksinya dinilai masih terlalu mahal untuk dipasarkan secara massal.
"Kami kembangkan yang rumput laut dulu. Tapi setelah dihitung biaya produksinya, ternyata terlalu mahal. Akhirnya kami mencari alternatif lain," katanya.
Putar otak, Baiyo akhirnya mulai fokus menggunakan singkong sebagai bahan utama pada 2023 karena dinilai lebih ekonomis. Singkong yang digunakan merupakan jenis dengan kandungan pati tinggi dan bukan yang umum dikonsumsi masyarakat.
Sejumlah produk biji plastik yang diproduksi Baiyo di Denpasar, Sabtu (16/5/2026). (Fabiola Dianira) |
"Singkong hanya butuh lahan dan air. Tidak terlalu bergantung pada pupuk. Kalau pupuk masih impor, nanti muncul masalah ketergantungan baru. Selain itu, metode produksinya juga bisa dikerjakan oleh SDM Indonesia," jelasnya.
Di awal eksperimen, biji plastik berbahan singkong yang mereka hasilkan justru sangat rapuh. Kegagalan tak hanya sekali, dalam penelitian selanjutnya biji plastik yang dihasilkan aromanya tidak sedap, atau justru meleleh saat terkena panas. Formula diubah berkali-kali, biji demi biji diteliti ulang. Bagi mereka, kegagalan justru menjadi langkah untuk semakin dekat menuju keberhasilan.
Baiyo bergerak dengan konsep Business-to-Business (B2B). Mereka tidak menjual kantong plastik langsung ke konsumen, melainkan menyuplai biji plastik ramah lingkungan ke pabrik-pabrik pengolahan. Momentum kelangkaan nafta dan lonjakan harga plastik membuat Baiyo sebagai jalan alternatif.
"Kami menjualnya secara B2B ke pabrik plastik. Dengan kondisi sekarang, harga bahan baku plastik naik sehingga banyak pelaku industri mulai mencari alternatif. Beberapa sudah menghubungi kami, hanya saja kami masih belum memiliki pabrik sendiri," katanya.
Saat ini Baiyo masih berada pada tahap pilot project. Hanya saja, tantangan baru kembali muncul. Menghasilkan formula yang sukses di meja laboratorium sangat berbeda dengan memproduksinya secara massal di pabrik karena membutuhkan dana besar, penyesuaian teknologi, dan mental yang kuat menghadapi kegagalan lagi.
"Nah, jadi formula ini diproduksi di lab itu istilahnya resep masakan yang sama dimasak di dapur rumah saya, lalu resep yang sama saya bawa ke Master Kitchen, restoran besar yang sekali masak buat seribu orang. Nggak bisa menggunakan cara masak atau resep yang sama persis, itu nggak bisa, nggak bakal jalan. Harus ada penyesuaian. Nah, itulah yang saat ini kita sedang berada di posisi pilot project," imbuhnya.
Guna mematangkan fase krusial ini, Baiyo menggandeng sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan terbaru Universitas Udayana (Unud). Dukungan juga sempat datang dari Kementerian UMKM, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian. Saat ini, satu perusahaan Jepang dan tiga perusahaan lokal tercatat telah menjajaki kerja sama dengan Baiyo.
Untuk pilot project, Baiyo sengaja memilih Bali sebagai lokasi awal penerapan dengan pendirian pabrik. Willy menilai Bali memiliki kesadaran lingkungan yang lebih kuat dibandingkan daerah lain.
Baca juga: Melepas Penat, Meraup Cuan dari Sketsa |
"Kami secara sadar memilih Bali untuk memulai pilot project ini karena dibandingkan provinsi lain, Bali paling peduli terhadap lingkungan. Bali juga menjadi provinsi pertama yang melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai di minimarket," ujar Willy.
Menurutnya, masyarakat Bali juga memiliki nilai kearifan lokal yang selaras dengan alam sehingga penerapan produk ramah lingkungan dinilai lebih mudah.
(nor/nor)











































