Liputan Khusus Nyepi dan Lebaran di Bali

Kala Masjid Ajak Umat Hormati Nyepi

Hani Sofia Muthmainnah - detikBali
Rabu, 18 Mar 2026 07:00 WIB
Umat menjalankan salat di Masjid Al-Muhajirin, Pemogan, Denpasar. (Foto: Hani Sofia/detikBali)
Denpasar -

Malam takbiran di Bali tahun ini dipastikan berjalan berbeda. Bukan karena dilarang, tetapi karena dipilih untuk disederhanakan.

Di tengah pertemuan dua momen besar, Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi, umat Islam di Pulau Dewata mengambil satu sikap: menjaga kekhusyukan dengan cara saling menghormati.

Tidak ada pawai keliling kampung. Tidak ada tabuhan bedug yang bersahut-sahutan. Miniatur masjid yang biasanya meramaikan jalanan pun absen.

Takbir tetap dikumandangkan, tetapi dari dalam masjid, tanpa pengeras suara.

Perubahan itu terjadi karena malam takbiran diperkirakan bertepatan dengan Nyepi pada 19 Maret 2026, hari ketika seluruh aktivitas di Bali berhenti total, digantikan oleh keheningan.

Di situ, dua kepentingan besar bertemu.

Di satu sisi, takbiran adalah syiar dan ungkapan kemenangan. Di sisi lain, Nyepi adalah perenungan dalam sunyi.

Bagi pengurus masjid, pilihan yang diambil bukan soal mana yang didahulukan, melainkan bagaimana keduanya bisa berjalan tanpa saling mengganggu.

Ketua takmir Masjid Al-Muhajirin, Abdul Ghani, menyebut keputusan membatasi takbiran sebagai bentuk kesepahaman bersama.

"Ya, itu sebetulnya sebagai jalan tengah ya. Jalan tengah antara agama-agama menyepakati itu. Seperti apa namanya kemarin, sudah ada keputusan FKUB. Itu jalan tengah," ujar Ghani kepada detikBali, Sabtu (14/3/2026).

Simak Video "Video Menag Ungkap Aturan Takbiran saat Hari Nyepi di Bali: Tanpa Sound System"


(dpw/dpw)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork