
Soroti Fenomena Rojali, Dosen UGM: Waspada PHK Ritel!
Istilah rojali baru-baru ini sering digunakan untuk menyebut suatu fenomena di pusat perbelanjaan. Namun, apa itu rojali dan apa dampaknya?
Istilah rojali baru-baru ini sering digunakan untuk menyebut suatu fenomena di pusat perbelanjaan. Namun, apa itu rojali dan apa dampaknya?
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana) akan selalu ada.
Sedang ramai istilah Rojali atau rombongan jarang beli. ShopeePay pun memberikan pandangan apakah hal ini memengaruhi pertumbuhan ekonomi.
"Kita bisa melihat bagaimana sekarang ini mal-mal sepi karena sebenarnya bukan karena Rojali dan Rohana," kata Piter.
Istilah kaum 'Rojali' sebagai pengunjung mall masih mencuri perhatian. Tenang saja, karena di Grand Indonesia, bisa tetap makan kenyang dengan budget Rp 45.000!
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyoroti tentang fenomena munculnya rombongan yang hanya melihat-lihat di pusat perbelanjaan.
Fenomena Rojali dan Rohana tidak menandakan krisis daya beli, melainkan perubahan perilaku belanja masyarakat yang harus direspons dengan kebijakan adaptif.
Kementerian Perdagangan bantah fenomena 'rohana' dan 'rojali' terkait daya beli. Wamen Dyah Roro Esti sebut perubahan cara belanja masyarakat Indonesia.
Chairul Tanjung mengungkapkan penurunan daya beli masyarakat akibat PHK dan kelas menengah yang 'turun kasta'. Kreativitas dan mengikuti tren jadi kunci sukses.
Munculnya fenomena rohana dan rojali di pusat perbelanjaan dikaitkan pada lesunya pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia.