Salah satu legenda PSMS Medan dan Timnas Indonesia Tumsila tutup usia hari ini karena sakit yang diidapnya. Semasa aktif bermain Tumsila dijuluki Si Kepala Emas.
Eks Pemain PSMS Medan Julius Raja mengatakan di lapangan hijau nama Tumsila (Uttama Silan) dikenang sebagai bagian dari sejarah sepakbola Sumatera Utara. Apalagi almarhum berhasil mengantar PSMS meraih gelar Perserikatan pertama dalam sejarah klub.
"Tahun 1967, di usia 19 tahun, Tumsila membawa PSMS junior menjuarai Piala Soeratin, lalu dipanggil ke tim senior. Pada tahun yang sama, ia mengantar PSMS meraih gelar Perserikatan pertama dalam sejarah klub," kata Julius Raja, Kamis (8/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia bilang tandukan Tumsila saat memperkuat PSSI Harimau menghadapi Stoke City, tanggal 20 Juni 1976, klub asal Liga Inggris, masih dikenang hingga kini.
"Golnya menjadi penyeimbang ketika laga bola itu berakhir dengan skor 1-1. Pat Jennings ketika itu tampil sebagai penjaga gawang Stoke City," katanya.
Menurut nya, julukan Si Kepala Emas itu diberikan langsung oleh Mayjen Sarwo Edhie Wibowo saat momen penyerahan piala Aga Khan 1967. Di Aga Khan Gold Cup, Bangladesh, dua sundulannya ke gawang Muhammadan memastikan kemenangan 2-0.
"Sejak itulah ia dipanggil "Si Kepala Emas". Bersama PSMS, Tumsila kembali berjaya pada Piala Perserikatan PSSI tahun 1969 dan 1971," ungkapnya.
Tumsila lahir di Medan, Sumatera Utara, 18 Agustus 1948. Sejak muda, bola seolah selalu mencari kepalanya.
Idola Tumsila adalah Pele, pemain Brazil. Tawaran bermain di luar negeri datang, tetapi ia tetap memilih mengabdi kepada tanah air.
Artikel ditulis Muhammad Fikri Haikal Saragih, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
