Industri Kopi Sumut Makin Berkembang, Arabika Kini Jadi Primadona

Industri Kopi Sumut Makin Berkembang, Arabika Kini Jadi Primadona

Kartika Sari - detikSumut
Selasa, 21 Jul 2026 04:05 WIB
Potret biji kopi Simalungun. (Kartika Sari/detikSumut)
Foto: Potret biji kopi Simalungun. (Kartika Sari/detikSumut)
Medan -

Tren menikmati kopi kini semakin berkembang di Sumut. Bukan hanya mencari rasa pahit pekat, namun kini penikmat kopi memilih Arabika karena menawarkan cita rasa yang lebih kompleks.

Pemilik Bbbarat Coffee Zizi membeberkan bahwa perkembangan industri kopi melejit dalam beberapa tahun belakangan. Perubahan ini terlihat dari proses pengolahan kopi maupun teknik menyeduh kopi.

"Saat ini industri kopi berkembang jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari processing, brewing, sampai produk jadi," ungkap Zizi saat event Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU), Senin (20/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, Zizi menyebut jika saat ini konsumen di Medan lebih banyak mencari kopi Arabica, terutama disajikan dengan metode manual brew.

Menurutnya, Arabica menawarkan karakter rasa yang lebih kompleks dibanding robusta. Hal ini membuat penikmatnya memiliki sensasi minum kopi yang berbeda.

ADVERTISEMENT

"Kalau Arabica kompleksitas rasanya jauh lebih menarik. Kalau robusta cenderung lebih flat, nah di Medan itu permintaan arabica lebih banyak," ujarnya.

Sementara itu, kopi arabica yang memiliki karakter khas berasal dari Simalungun. Pemilik Aga'jo Coffee Novita membeberkan bahwa Kopi Arabica Simalungun memiliki cita rasa yang sedikit lebih asam dibanding kopi dari daerah lain di Sumut.

"Kalau aroma hampir mirip tapi rasanya sedikit lebih asam. Tapi asamnya itu asam segar sehingga cocok dipadukan dengan buah. Misalnya untuk americano dengan campuran lemon atau buah lainnya," kata Novita.

Ia menjelaskan bahwa Arabika Simalungun yang dipasarkan merupakan varietas Ateng dan Sigararutang. Green bean atau biji hijau yang dijual tersedia dalam dua proses pascapanen yaitu full wash dan semi wash.

Novita menyebut jika permintaan green bean terus berjalan dari roastery, kedai kopi, hingga eksportir. Dalam satu pekan, ia mampu memasok 1-2 ton biji kopi hijau.

"Sebagian besar yang dicari masih arabica semi wash karena harganya lebih terjangkau dan banyak digunakan roastery," ujarnya.

Green bean arabica semi wash dijual sekitar Rp 130 ribu-Rp 140 ribu per kg sementara arabica full wash sekitar Rp 150 ribu-Rp 155 ribu per kg. Sementara kopi robusta dijual Rp 78 ribu per kg.

Perkembangan menikmati kopi di Sumut juga menjadi perhatian Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Didit Widiana yang menyebut harus ada kolaborasi antar stakeholder agar industri kopi semakin berkembang.

"Pengembangan industri kopi tidak dapat dilakukan secara sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar industri kopi Sumatera Utara semakin berkembang dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas," ujar Didit.

Menurutnya Sumatera Utara punya potensi besar sebagai salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia. Ia menyebut jika cita rasa khas kopi dari berbagai daerah di provinsi ini bahkan telah dikenal hingga pasar internasional.

"Kopi Sumatra tidak hanya dikenal sebagai kopi berkualitas, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi melalui tersedianya akses ke pasar global sehingga memberikan manfaat yang lebih besar bagi UMKM maupun pelaku industri kopi," pungkasnya.



(ksr/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads