Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendalami soal kematian mantan istri Brigadir I, Winda Lorenza Gowasa. Berikut temuan-temuan Kompolnas terkait kejadian itu.
Ada sejumlah temuan Kompolnas terkait kematian Winda. Berdasarkan rangkuman detikSumut, ada setidaknya 7 temuan Kompolnas soal kasus tewasnya Winda itu.
Komisioner Kompolnas M Choirul Anam mengatakan pihaknya turun ke Kota Medan sejak Senin (21/9/2026) malam. Awalnya, Kompolnas meminta keterangan dari keluarga Winda.
Setelah itu, Kompolnas mengecek lokasi serta meminta keterangan pihak keluarga Brigadir I dan Polrestabes Medan. Anam menyebut pihaknya menggali informasi mulai dari sebelum kejadian, saat, hingga setelah kejadian itu.
"Kami datang ke sini sejak Senin malam. Memang tujuannya melihat, mendalami apa sebenarnya yang terjadi pada peristiwa Winda dan seputaran peristiwa yang muncul di publik, sehingga kami telusuri keluarga korban, Polda, maupun pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa ini. Termasuk ya penasihat hukum keluarga Winda," kata Anam saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Rabu (23/9/2026).
Berikut detikSumut rangkum 7 temuan Kompolnas terkait kematian Winda itu:
1.CCTV Sering Bermasalah
Anam menyebut berdasarkan informasi awal yang diterima pihaknya bahwa CCTV di rumah itu bermasalah pada saat kejadian, yakni di tanggal 2 Agustus 2026. Oleh karena itu, pihaknya turut mengecek CCTV di rumah tersebut.
Hasil pemeriksaan CCTV dalam kurun waktu 4 bulan sebelum kejadian, ditemukan bahwa CCTV itu memang kerap bermasalah.
"Apa yang terjadi di CCTV tanggal 2 (Agustus) kok tidak berfungsi dengan baik?. Kami minta kepada Labfor untuk menelusuri 3 bulan ke belakang. Ternyata problem seperti itu (bermasalah), 4 bulan ke belakang itu memang memiliki pola yang secara sistem, problem (bermasalah). Jadi, problemnya adalah pada sistemnya," sebutnya.
Anam menyebut CCTV itu tidak hanya bermasalah di hari kejadian saja, tetapi juga pada hari sebelumnya. Mantan Komisioner Komnas HAM itu menyebut CCTV itu bermasalah pada sistemnya.
"Jadi itu tidak hanya mati di tanggal 2 (Agustus), tanggal 1 pun juga sudah mati. Kami juga cek kondisi fisiknya, tidak ada problem. Jadi, problemnya memang ada di sistem dan itu pola-polanya bisa dibaca beberapa bulan sebelum kejadian (sering bermasalah)," kata Anam.
2. Ada Masalah Kesehatan hingga Beban Ekonomi
Anam mengatakan Kompolnas juga mendalami soal hubungan antara Winda dengan Brigadir I, dengan keluarganya, keluarga I serta hubungan Brigadir I dengan keluarga Winda, beberapa bulan belakangan.
Salah satu caranya dengan menelusuri jejak digital komunikasi Winda. Dari hasil pengecekan itu, ditemukan ada beberapa permasalahan yang dialami Winda, seperti permasalahan kesehatan fisik, kesehatan mental serta beban ekonomi. Namun, Anam enggan memerinci lebih lanjut terkait permasalahan ini.
"Komunikasi digitalnya ini menceritakan banyak hal. Kondisi kesehatan, percakapan apa yang terjadi, yang memang kalau di dinamika komunikasi itu ada beban yang memang menjadi perhatian keluarga tersebut. Beban ini ya karena memang dunia luar yang begitu luas yang bisa dikendalikan pakai hp dan itu secara ekonomi merugikan banyak," jelasnya.
"Berikutnya memang kondisi kesehatan, tidak hanya kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Di mana dinamika kesehatan mental itu ditarik ke belakang itu mencerminkan sesuatu yang memiliki rekam jejak yang dekat dengan peristiwa pada hari H itu sendiri. (Beban) soal kesehatan fisik, mental, termasuk juga beban ekonomi," sambungnya.
3. Tak Temukan Bukti Winda 'Dijual' ke Petinggi Polri
Informasi soal Winda yang 'dijual' kepada petinggi Polri juga menjadi bagian pendalaman Kompolnas. Hasil pendalaman, pihaknya tak menemukan bukti terkait tudingan itu.
"Kami juga mengklarifikasi beberapa hal yang ada di ruang publik, misalnya terkait bahwa almarhum (Winda) ini seolah-olah dijual kepada petinggi Polri, pada pimpinannya misalnya. Kami klarifikasi, ternyata nggak ada pembanding kebenarannya, sehingga kami cukup sesalkan. Kalau itu ada pembandingnya kami akan bertanggung jawab menelusuri itu. Tapi ternyata rekam jejaknya berat, maksudnya jauh dari apa yang diomongkan," sebut Anam.
Simak Video "Video: Kompolnas Terima 2.830 Aduan Sepanjang 2025, Didominasi Kinerja Reserse"
(fnr/nkm)