7 Temuan Kompolnas soal Kasus Eks Istri Polisi Tewas di Medan

7 Temuan Kompolnas soal Kasus Eks Istri Polisi Tewas di Medan

Finta Rahyuni - detikSumut
Rabu, 23 Sep 2026 23:33 WIB
Komisioner Kompolnas Choirul Anam saat konferensi pers (Foto: Finta Rahyuni/detikSumut)
Foto: Komisioner Kompolnas Choirul Anam saat konferensi pers (Foto: Finta Rahyuni/detikSumut)
Medan -

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mendalami soal kematian mantan istri Brigadir I, Winda Lorenza Gowasa. Berikut temuan-temuan Kompolnas terkait kejadian itu.

Ada sejumlah temuan Kompolnas terkait kematian Winda. Berdasarkan rangkuman detikSumut, ada setidaknya 7 temuan Kompolnas soal kasus tewasnya Winda itu.

Komisioner Kompolnas M Choirul Anam mengatakan pihaknya turun ke Kota Medan sejak Senin (21/9/2026) malam. Awalnya, Kompolnas meminta keterangan dari keluarga Winda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah itu, Kompolnas mengecek lokasi serta meminta keterangan pihak keluarga Brigadir I dan Polrestabes Medan. Anam menyebut pihaknya menggali informasi mulai dari sebelum kejadian, saat, hingga setelah kejadian itu.

"Kami datang ke sini sejak Senin malam. Memang tujuannya melihat, mendalami apa sebenarnya yang terjadi pada peristiwa Winda dan seputaran peristiwa yang muncul di publik, sehingga kami telusuri keluarga korban, Polda, maupun pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa ini. Termasuk ya penasihat hukum keluarga Winda," kata Anam saat konferensi pers di Polrestabes Medan, Rabu (23/9/2026).

ADVERTISEMENT

Berikut detikSumut rangkum 7 temuan Kompolnas terkait kematian Winda itu:

1.CCTV Sering Bermasalah

Anam menyebut berdasarkan informasi awal yang diterima pihaknya bahwa CCTV di rumah itu bermasalah pada saat kejadian, yakni di tanggal 2 Agustus 2026. Oleh karena itu, pihaknya turut mengecek CCTV di rumah tersebut.

Hasil pemeriksaan CCTV dalam kurun waktu 4 bulan sebelum kejadian, ditemukan bahwa CCTV itu memang kerap bermasalah.

"Apa yang terjadi di CCTV tanggal 2 (Agustus) kok tidak berfungsi dengan baik?. Kami minta kepada Labfor untuk menelusuri 3 bulan ke belakang. Ternyata problem seperti itu (bermasalah), 4 bulan ke belakang itu memang memiliki pola yang secara sistem, problem (bermasalah). Jadi, problemnya adalah pada sistemnya," sebutnya.

Anam menyebut CCTV itu tidak hanya bermasalah di hari kejadian saja, tetapi juga pada hari sebelumnya. Mantan Komisioner Komnas HAM itu menyebut CCTV itu bermasalah pada sistemnya.

"Jadi itu tidak hanya mati di tanggal 2 (Agustus), tanggal 1 pun juga sudah mati. Kami juga cek kondisi fisiknya, tidak ada problem. Jadi, problemnya memang ada di sistem dan itu pola-polanya bisa dibaca beberapa bulan sebelum kejadian (sering bermasalah)," kata Anam.

2. Ada Masalah Kesehatan hingga Beban Ekonomi

Anam mengatakan Kompolnas juga mendalami soal hubungan antara Winda dengan Brigadir I, dengan keluarganya, keluarga I serta hubungan Brigadir I dengan keluarga Winda, beberapa bulan belakangan.

Salah satu caranya dengan menelusuri jejak digital komunikasi Winda. Dari hasil pengecekan itu, ditemukan ada beberapa permasalahan yang dialami Winda, seperti permasalahan kesehatan fisik, kesehatan mental serta beban ekonomi. Namun, Anam enggan memerinci lebih lanjut terkait permasalahan ini.

"Komunikasi digitalnya ini menceritakan banyak hal. Kondisi kesehatan, percakapan apa yang terjadi, yang memang kalau di dinamika komunikasi itu ada beban yang memang menjadi perhatian keluarga tersebut. Beban ini ya karena memang dunia luar yang begitu luas yang bisa dikendalikan pakai hp dan itu secara ekonomi merugikan banyak," jelasnya.

"Berikutnya memang kondisi kesehatan, tidak hanya kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Di mana dinamika kesehatan mental itu ditarik ke belakang itu mencerminkan sesuatu yang memiliki rekam jejak yang dekat dengan peristiwa pada hari H itu sendiri. (Beban) soal kesehatan fisik, mental, termasuk juga beban ekonomi," sambungnya.

3. Tak Temukan Bukti Winda 'Dijual' ke Petinggi Polri

Informasi soal Winda yang 'dijual' kepada petinggi Polri juga menjadi bagian pendalaman Kompolnas. Hasil pendalaman, pihaknya tak menemukan bukti terkait tudingan itu.

"Kami juga mengklarifikasi beberapa hal yang ada di ruang publik, misalnya terkait bahwa almarhum (Winda) ini seolah-olah dijual kepada petinggi Polri, pada pimpinannya misalnya. Kami klarifikasi, ternyata nggak ada pembanding kebenarannya, sehingga kami cukup sesalkan. Kalau itu ada pembandingnya kami akan bertanggung jawab menelusuri itu. Tapi ternyata rekam jejaknya berat, maksudnya jauh dari apa yang diomongkan," sebut Anam.

4. Winda hanya Alami Luka Tembak

Kompolnas juga memeriksa foto-foto Winda sebelum autopsi dan sesudah. Hal ini untuk menjawab kecurigaan keluarga terkait luka-luka yang dialami oleh korban. Untuk diketahui, pihak keluarga menduga ada sejumlah luka yang tak wajar di tubuh Winda.

Awalnya, Kompolnas mengecek foto-foto jasad korban yang ditunjukkan oleh pihak keluarga. Foto-foto itu adalah foto setelah korban diautopsi.

"Kondisi fisik tubuhnya itu kami dapatkan informasi dan juga ditunjukkan foto oleh keluarga. Jadi, keluarga menunjukkan foto ke kami, pascaautopsi yang itu mungkin menjelang mau dimakamkan," jelasnya.

Lalu, Kompolnas membandingkan foto tersebut dengan dokumentasi setelah jasad korban ditemukan tewas, saat diautopsi hingga setelah selesai diautopsi. Ada 96 foto yang dicek oleh tim Kompolnas.

Anam menyebut sebelum autopsi, bekas luka yang ada di tubuh korban itu hanya luka tembak. Sementara luka lainnya adalah luka bekas autopsi atau bekas perkenaan peluru.

"Luka-luka hanya ada di sini (kepala), luka akibat tembakan itu, yang lain nggak terdapat. Jadi, kalau ada jahitan, itu bukan karena tusukan, bukan karena dipukuli dan sebagainya, tapi itu karena tindakan autopsi. Korban meninggal karena memang ada luka tembak di dalam itu. Itu yang menyebabkan kematian. Jadi, bukan kematian karena ditusuk atau karena dipukuli dan sebagainya," kata Anam.

"Terus bagaimana dengan seperti memar, lebam, dan sebagainya, termasuk juga di kuku? Ya di kuku itu tadi juga dijelaskan karena ini juga pertanyaan dari keluarga. Nah, itu ciri-ciri siapa pun yang meninggal, salah satunya kalau dia kekurangan oksigen, ininya (kuku) akan membiru, semakin lama semakin biru. Lalu, kok ada lebam-lebam di tubuh yang lain? itu kita bandingin dengan foto sebelum diautopsi. Kalau penjelasan dari kedokteran tadi ya, itu konsekuensi dari lama waktunya jenazah atau konsekuensi dari kekurangan oksigen di awal," jelasnya.

5. Ada Jejak Residu

Kompolnas juga memeriksa senjata jenis Revolver Kaliber 38 yang digunakan Winda untuk mengakhiri hidupnya. Anam mengatakan dari hasil uji balistik, peluru dan sidik jarinya identik.

"Senjata sudah diuji balistiknya, identik antara peluru yang digunakan dengan sidik jari balistiknya identik," jelas Anam.

Selain itu, Kompolnas juga mengecek sisa residu peluru. Anam mengatakan residu itu ditemukan di pakaian hingga dan tubuh.

"Kami juga tadi dijelaskan residu ditemukan di mana saja, kenapa kok itu bisa ditemukan. Kami juga cek dan itu secara logika masih bisa diterima logikanya. Jejak residu tidak hanya pada pakaian, tidak hanya pada tubuh, juga ada pada barang dan pada tempatnya, sehingga logika jejak residu solid," ujarnya.

6. Soal Selimut yang Tidak Jadi Barang Bukti

Anam mengatakan pihaknya juga menerima informasi soal adanya barang bukti yang tidak diikutsertakan. Anam menyebut awalnya ada video saat petugas inafis tengah berada di depan kamar jenazah.

Di hadapan petugas Inafis itu, ada bungkusan yang belakangan ternyata tidak menjadi barang bukti di kepolisian. Setelah ditelusuri, bungkusan itu ternyata berisi selimut yang berada di rumah Brigadir I.

"Kami cek ternyata itu kayak selimut begitu dan memang nggak ada hubungannya. Jadi itu tidak merupakan bukti," kata Anam.

Anam mengatakan setelah korban mengakhiri hidupnya itu, Brigadir I mendobrak pintu kamar mandi itu dan menarik jasad korban keluar. Alhasil, ada bercak darah yang ditemukan di luar kamar mandi.

"Terus kenapa kok di luar kamar mandi itu ada bercak darah sedikit misalnya? Ya karena itu pemindahan. Jadi, nggak memungkinkan darah itu keluar kalau itu bukan pemindahan dari dalam ke luar. Posisinya apalagi posisinya jenazah itu, almarhum tersebut memang nyender ke pintu sehingga kalau dia nggak dipindah nggak mungkin pintunya bisa dibuka," sebutnya.

7. Jam Kematian

Kompolnas turut mendalami soal jam kematian yang masih simpang siur. Apalagi setelah pihak keluarga mendapatkan informasi dari penggali kubur bahwa kuburan korban telah digali pada Minggu pagi.

Anam mengatakan pihaknya telah mengecek aktivitas di lokasi kejadian mulai dari Minggu pagi hingga sore. Pengecekan dilakukan dengan pemeriksaan jejak digital hingga memeriksa sejumlah saksi, termasuk anak korban.

"Soal jam kematian, kami tidak hanya mendengarkan apa yang dinyatakan oleh penggali kubur. Kami juga mengecek, membandingkan dengan substansi aktivitas di hari itu. Hari Minggu pagi ngapain, siang ngapain, sore ngapain. Kami bandingkan, termasuk juga kapan kelarnya autopsi dan sebagainya, dan itu make sense logikanya dan sebagainya. Oleh karenanya, kami meyakini bahwa masuk ke ruang jenazah hari Minggu sore," ujar Anam.

Kesimpulan Kompolnas

Berdasarkan temuan-temuan itu, Kompolnas menilai bahwa penembakan itu terjadi tanpa melibatkan orang lain. Namun, Anam enggan menyimpulkan bahwa korban tewas karena bunuh diri. Meski begitu, dia mengaku bahwa penyelidikan yang dilakukan oleh petugas kepolisian sudah solid.

"Dengan berbagai rekam jejak digital, keterangan satu dengan yang lain, sepanjang hari ini, itu memang tunggal berdiri sendiri peristiwanya. Logika peristiwanya memiliki konstruksi peristiwa yang logis. Kecuali memang ada alat bukti yang lain. Sepanjang saat ini apa yang dilakukan oleh rekan-rekan kepolisian, baik administratif maupun secara substansi, logika peristiwanya solid," ujarnya.

"Ini penting untuk dikatakan menggunakan kata solid karena berbagai kepentingan kita harus jaga, khususnya kepentingan anak-anak, kepentingan keluarga, kepentingan masyarakat," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Kompolnas Terima 2.830 Aduan Sepanjang 2025, Didominasi Kinerja Reserse"
[Gambas:Video 20detik] (fnr/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads