Polisi mengamankan enam orang terkait bentrokan dua kelompok di kawasan Setokok, Jembatan Barelang, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Bentrokan yang dipicu konflik lahan itu mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan 10 lainnya mengalami luka-luka.
Kapolresta Barelang, Kombes Anggoro Wicaksono mengatakan bentrokan berawal dari konflik kepemilikan lahan yang sudah berlangsung cukup lama. Menurutnya, polisi sebelumnya telah melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah terjadinya konflik.
"Ini diawali karena adanya konflik masalah lahan, yang mana permasalahan ini sudah cukup lama berjalan. Kami dari Polresta Barelang maupun Polda sudah melaksanakan langkah-langkah mitigasi," kata Anggoro Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggoro menjelaskan bentrokan terjadi saat salah satu kelompok datang ke lokasi, sementara kelompok lain yang sedang menguasai lahan merasa terprovokasi hingga terjadi penyerangan.
"Kejadiannya adalah aksi spontan. Waktu kelompok satu datang, kelompok satunya yang sedang dipercaya mengelola lahan merasa terprovokasi sehingga melakukan penyerangan," ujarnya.
Akibat bentrokan itu, dua orang meninggal dunia. Polisi juga mencatat tujuh orang dari salah satu kelompok mengalami luka, sementara tiga orang dari kelompok lainnya turut menjadi korban luka.
"Untuk kelompok satunya, ada tujuh orang yang luka. Untuk pihak satunya lagi ada tiga orang," ucapnya
Usai kejadian, aparat gabungan dari Polresta Barelang, Polda Kepri, dan Kodim langsung melakukan pengamanan di lokasi. Sejumlah orang telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan.
"Total lebih kurang ada enam orang yang diamankan. Ini masih kita kembangkan lagi, termasuk ada yang posisinya korban," kata Anggoro.
Dia mengatakan polisi telah mengamankan terduga pelaku dan saat ini masih mendalami peran masing-masing pihak yang terlibat.
"Masih didalami," ujarnya
"Dugaan awal adanya penggunaan senjata angin, bukan senjata api. Dan itu sudah ada terduga pelaku yang kita amankan," ucapnya.
Saat ditanya apakah senjata angin tersebut menjadi penyebab dua korban meninggal, Anggoro mengatakan hal itu masih menunggu hasil pemeriksaan medis.
"Iya, dugaan awal. Tapi proses visum dan autopsi masih berjalan. Kami mohon waktu," ujarnya.
Anggoro menegaskan bentrokan tersebut murni dipicu konflik lahan dan tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, maupun antargolongan (SARA).
"Ini adalah masalah konflik lahan, tidak ada kaitannya dengan konflik SARA, agama, suku, dan lain sebagainya," tegasnya.
Polisi mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi informasi yang belum dipastikan kebenarannya. Aparat gabungan juga akan terus meningkatkan patroli untuk menjaga situasi tetap kondusif.
"Bapak Kapolda sudah memerintahkan kepada kami untuk melakukan penegakan hukum terhadap semua yang terlibat dalam kejadian ini," ujarnya
Simak Video "Membuat Camilan Unik dari Buah Naga di Batam dan Menikmati Rasa Nikmatnya"
[Gambas:Video 20detik] (mjy/mjy)
