Baru 2 Bulan Jadi CPNS, Willy Mboik Tewas Ditembak KKB di Jayawijaya

Regional

Baru 2 Bulan Jadi CPNS, Willy Mboik Tewas Ditembak KKB di Jayawijaya

Simon Selly - detikSumut
Jumat, 11 Sep 2026 06:29 WIB
Suasana rumah duka  keluarga Willy Mboik di Kupang, NTT, Kamis (10/9/2026) malam.
Suasana rumah duka keluarga Willy Mboik di Kupang, NTT, Kamis (10/9/2026) malam. (Foto: Simon Selly/detikBali)
Jayawijaya -

Baru sekitar dua bulan berstatus CPNS di Provinsi Papua Pegunungan, Willy Mboik (24) menjadi korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Jayawijaya. Willy tewas saat menjalankan tugas bersama sejumlah petugas lainnya untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

Duka mendalam kini dirasakan keluarga Willy di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Kamis (10/9/2026), keluarga menggelar doa bersama di tenda rumah duka sembari menanti kedatangan jenazah Willy.

Salah seorang kerabat mengungkapkan bahwa Willy belum lama menyandang status sebagai CPNS. Willy mengikuti seleksi dengan formasi pada 2024. Tes tersebut kemudian dilaksanakan pada 2025, sementara surat keputusan (SK) pengangkatannya baru diterbitkan pada 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Adik ikut tes PNS disana dan formasinya di tahun 2024, yang diadakan tesnya tahun 2025 dan SK adik itu terbit di 2026, jadi baru CPNS. Jadi adik kurang lebih baru dua bulan CPNS di sana," ujar kerabat Willy melansir detikBali.

Kerabat tersebut mengatakan Willy sebenarnya telah berada di Jayawijaya sejak 2023. Di wilayah itu, Willy bekerja di instansi yang menangani bidang pertanian dan peternakan, yang berkantor di Kantor Bupati.

ADVERTISEMENT

Willy kemudian menjadi korban penembakan ketika sedang dalam perjalanan menjalankan tugas bersama petugas lainnya. Kerabat Willy menceritakan informasi mengenai kronologi kejadian yang diperolehnya.

Penembakan berlangsung pada Rabu (9/9) sekitar pukul 15.40 waktu setempat. Saat itu, Willy bersama petugas lainnya meninggalkan kantor untuk membagikan bibit serta anakan babi kepada masyarakat.

"Kejadian yang pasti saya tidak di lokasi, yang pasti kasus ini masih dalam penyelidikan oleh polisi disitu. Dari cerita yang beredar pas jam 15.40 waktu setempat mereka dicegat di jalan dia mobil itu," ujarnya.

Para petugas tersebut menggunakan dua mobil yang masing-masing membawa pegawai dari bidang pertanian dan peternakan. Kedua kelompok petugas itu diketahui bekerja di kantor yang sama, yakni Kantor Bupati.

"Dari dua mobil itu terisi petugas dari pertanian dan peternakan, kebetulan mereka satu kantor, yang berkantor di Kantor Bupati, mereka keluar untuk bagi-bagi bibit dan anakkan babi untuk masyarakat," katanya.

Sebanyak 11 orang berada di dalam dua kendaraan tersebut. Ketika perjalanan mereka dihentikan, para penumpang kemudian dipisahkan berdasarkan kelompok lokal dan pendatang. Willy termasuk orang yang berada dalam kelompok yang dipisahkan tersebut.

"Jadi mereka dicegat jadi dari 11 orang yang di dalam mobil mereka di taro terpisah orang lokal dan orang pendataan termasuk adik ini. Setelah di pisah baru di lakukan (tembak)," ungkapnya.

HP Willy Hilang

Selain menyebabkan Willy meninggal dunia, insiden tersebut juga membuat sejumlah barang miliknya tidak ditemukan. Salah satunya ialah telepon seluler milik Willy.

"Jadi HP adik itu hilang, mungkin di ambil para pelaku. Tasnya waktu jalan tinggal di kantor," katanya.

Polisi setempat masih melakukan penyelidikan terhadap kasus penembakan tersebut. Jenazah Willy direncanakan tiba di Kupang pada Jumat pagi sebelum kemudian dibawa ke rumah orang tuanya di Kabupaten Rote Ndao.

"Besok pagi tiba di bandara langsung di antar ke pelabuhan untuk diantar ke Rote Ndao," katanya.

Sambil menunggu kedatangan jenazah Willy di Bandara El Tari Kupang, keluarga masih menggelar doa bersama di rumah duka. Willy diketahui merupakan anak bungsu dari lima bersaudara.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads