Massa yang mengikuti kegiatan zikir akbar dan doa tolak bala di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera bulan bintang. Aksi berujung rusuh itu diduga ada yang menggerakkan.
Hal itu terungkap dalam rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh yang berlangsung di Kantor Gubernur Aceh di Banda Aceh, Minggu (16/8/2026). Rapat dipimpin Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah Dek Fadh membahas dinamika yang terjadi saat peringatan Hari Damai Aceh (HDA), Sabtu (15/8).
"Di balik peristiwa kemarin, Pak Andrie (Kepala BIN Daerah Aceh Brigjen TNI Andrie Patriko Mulia) melihat ada sesuatu yang lain dalam kerusuhan ini. Ada yang men-drive kejadian ini. Siapa manusia ini? Mereka juga menggerakkan anak-anak di bawah umur," kata Juru Bicara Pemerintah Aceh Nurlis Effendi dalam keterangannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, pihak intelijen juga mendeteksi adanya kelompok berbeda yang berkumpul di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Mereka menunjukkan gelagat mencurigakan.
"Ketika Pak Andrie mengajak shalat mereka menghindar," jelas Nurlis.
Kapolda Aceh Irjen Ruddi Setiawan juga disebut mengimbau sejumlah orang yang berkumpul di masjid tersebut agar melaksanakan shalat. Namun mereka juga menghindar.
"Ini dinilai tidak lazim bagi anak-anak muda Aceh sebagai wilayah yang menerapkan Syariat Islam. Apalagi mereka berada di lingkungan masjid," jelas Nurlis.
Diketahui, kerusuhan di depan kawasan Masjid Raya dipicu penurunan bendera merah putih di tiang yang terletak di pekarangan. Massa memanjat tiang untuk mengibarkan bendera berlatar merah dengan garis hitam tersebut.
Aparat TNI dan polisi melepaskan tembakan dan gas air mata untuk membubarkan massa. Lima orang sempat diamankan namun telah dilepas kembali.
Sementara di Pendopo Gubernur, massa mayoritas berusia di bawah 30-an mencopot lambang burung Garuda dan menginjak-injaknya. Mereka juga menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera bulan bintang.
