Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Riau (Unri), dr TB Odih R Wahid, buka suara soal dokter ACL mengakhiri hidup dengan menyuntikkan obat karena terlilit pinjaman online dan tekanan psikologis. Ia menyebut seseorang yang menjalani Pendidikan memiliki beban dan target.
"Tekanan fisiologi tersebut tidak selalu berarti negative, seperti pada umumnya bila seseorang menjalani pendidikan apapun tentu akan ada beban dan target dalam pendidikan. Jadi bukan berarti tekanan psikologi itu hal yang negative di luar kurikulum dalam pendidikannya," katanya, Rabu (5/8/2026).
Odih mengungkap secara umum institusi pendidikan baik ada atau tidak peristiwa seperti yang dialami dokter ACL selalu melakukan evaluasi dan monitoring. Hal ini untuk penilaian SDM, Kurikulum sampai ke tahap penjaminan mutu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara umum tentu institusi pendidikan baik ada kejadian ini ataupun tidak akan selalu menjalankan Monitoring dan Evaluasi (Monev), mulai SDM, Kurikulum sampai Penjaminan Mutu," katanya.
Pihak kampus juga memastikan selama proses berjalan, peserta didik diingatkan dan diberikan dukungan. Sehingga capaian pendidikan sesuai dalam kurikulumnya.
"Termasuk di dalamnya ada unsur Peserta didik, agar diingatkan dan di support agar capaian pendidikannya sesuai mapping dalam kurikulumnya. Misalnya Proposal Tesis telah diajukan pada semester 5 dan seterusnya," kata Odih.
Diketahui, dokter ACL yang sedang dalam mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) mengakhiri hidup dengan menyuntikkan obat rocuronium ke dalam tubuhnya.
Pemeriksaan teksiologi menemukan kandungan rocuronium pada sampel urine, darah dan ginjal korban. Ahli forensik menyimpulkan kematian disebabkan efek rocuronium yang mengakibatkan kelumpuhan total otot pernapasan hingga korban mengalami mati lemas atau asfiksia.
Adapun memar di kepala yang ditemukan tidak menjadi penyebab kematian. Sedangkan luka-luka lain pada tubuh merupakan luka pasca kematian akibat aktivitas serangga.
Fakta lain terungkap adanya bercak darah pada jarum suntik yang ditemukan di TKP identik dengan DNA korban. Sehingga menunjukkan jarum tersebut digunakan oleh korban sendiri dan mengandung rocuronium.
Selain itu, hasil pemeriksaan psikologi forensik menunjukkan bahwa korban diduga mengalami tekanan psikologis yang dipicu oleh akumulasi berbagai persoalan. Sebut saja tekanan finansial, beban pendidikan PPDS hingga riwayat keluhan mengenai pinjaman online.
Simak Video "Video: Di Balik Jatuhnya ASN Nias dari Lantai 12 Apartemen"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
