Disclaimer: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Mantan istri Brigadir I, yakni L (35) ditemukan meninggal di dalam kamar mandi rumah mantan mertuanya di Kota Medan, usai diduga nekat bunuh diri menggunakan senjata api. Polisi menyebut Brigadir I sempat berupaya mencegah korban mengakhiri hidupnya.
Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan bahwa usai mengetahui korban berada di dalam kamar mandi sambil membawa senpi, Brigadir I sempat menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. Saat itu, Brigadir I juga sempat berkomunikasi dengan mantan istrinya itu untuk mencegah korban bunuh diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada saat mengetok kamar, di situ terjadi komunikasi yang sifatnya pencegahan dengan mengatakan jangan melakukan hal-hal yang tidak layak karena saksi I (polisi) ini tahu persis kondisi korban," kata Calvijn, Selasa (4/8/2026).
Selain itu, anak korban yang masih berusia 9 tahun juga sempat ikut mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi itu, tetapi tak ada respons korban. Setelah itu, korban pun mengucapkan permohonan maaf sebelum menembakkan senpi itu.
Calvijn menyebut saat kejadian itu di dalam rumah tersebut ada enam orang, yakni dua anak korban, Brigadir I, korban, pengasuh anak korban, dan seorang anggota keluarga I. Sementara yang berada di dalam kamar itu hanya anak pertama korban, korban dan Brigadir I.
Pihak kepolisian telah memeriksa saksi utama, yakni I dan anaknya yang berada dalam kamar saat kejadian. Calvijn menyebut pihaknya masih menyelidiki motif korban nekat mengakhiri hidupnya.
"Motif terkait dengan kasus ini, itu yang saya sebutkan tadi, bahwa pada saat ditinggalkan di kamar tersebut, faktanya bahwa korban berada di kamar mandi dengan mengambil senjata api milik saksi IH. Beberapa persoalan internal pribadi dan keluarga, itu yang menjadi kami telusuri terkait dengan yang pertanyaan motif itu. Sementara itu yang bisa saya jelaskan. Mudah-mudahan proses penyidikan dapat selesai dengan profesional dan akuntabel," ujarnya.
Perwira menengah Polri itu mengatakan awalnya Brigadir I, korban dan anak mereka usia 9 tahun tengah berada di salah satu kamar di rumah milik orang tua I. Lalu, I pergi keluar kamar meninggalkan korban dan anaknya.
Tak lama, I kembali ke dalam kamar dan mendapati korban sudah tak terlihat. I sempat menanyakan kepada anaknya soal keberadaan korban.
Pada saat yang bersamaan, I mendapati tasnya telah terbuka dan senpi yang berada di dalam tas itu sudah tidak ada lagi. Merasa curiga, Brigadir I lalu mengecek ke kamar mandi dan mendengar suara korban dari dalam kamar mandi itu.
Saat itulah, korban menyampaikan soal permintaan maaf itu. Tak lama, terdengar suara letusan senpi dari dalam kamar mandi. Calvijn menyebut senpi yang dipakai korban saat bunuh diri itu adalah jenis revolver.
"Setelah ucapan itu, dari dalam kamar mandi terdengar suara letusan satu kali," pungkasnya.
