Polisi dan Perusahaan Gas Negara (PGN) belum menemukan titik kebocoran yang menyebabkan terjadinya ledakan di rumah mewah Medan. Hal ini disebabkan karena pipa gas yang berada di rumah itu sangat panjang dan tertanam di dalam tembok.
Sebelumnya, pihak Labfor menyebut ada tiga terminal gas di rumah itu. Tiga terminal itu tersambung ke kompor di lantai 1, 1 kompor di lantai 4 dan satu genset.
"Hari ini, sebenarnya kita mau tahu kebocoran ini, kan harus kita jawab di mana. Pipa yang ada di sana sangat panjang dan semua ini tertanam di dalam tembok. Jadi kalau dikatakan apa kendalanya, ya kendalanya di sana," kata Kasubbid Fisika dan Komputer (Fiskom) Bidang Laboratorium Forensik Polda Sumut AKBP Roy Tenno Siburian, Kamis (23/7/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Roy menyebut salah satu cara agar kebocoran itu bisa terdeteksi adalah dengan cara membobol tembok itu. Dengan begitu, pihaknya akan bisa melihat pipa gas yang mengalami kebocoran itu.
"Kita mau urut pipanya, tentu harus membobol semua tembok-tembok yang ada di sana untuk mengeluarkan pipa itu. Besok kita masih melakukan itu, kita akan panggil nanti orang konstruksi untuk bisa membobol (tembok), mengeluarkan pipa-pipa yang ada di dalam tembok. Lalu. nanti kita lakukan pengujian bersama dengan pihak PGN," jelasnya.
"Pipanya itu kan semua ada di dalam tembok. Panjang rumah ini bisa sekitar 15 meter dengan 4 lantai (termasuk rooftop) dan itu ada semua di dalam tembok," sambung Roy.
Perwira menengah Polri itu mengatakan bahwa pada hari ini, polisi bersama PGN telah melakukan tes uji kebocoran untuk tiga terminal gas yang berada di rumah itu. Dari hasil pengukuran 3 terminal itu, tidak ada ditemukan tanda kebocoran. Untuk itu, pipa-pipa gas di dalam rumah itu harus dicek untuk mendeteksi kebocorannya.
"Ada beberapa titik yang kita lakukan (uji kebocoran), seperti di dapur, lalu di genset dan di atas (rooftop), tapi itu kan hanya baru terminalnya kan. Di terminal itu belum ditemukan (kebocoran)," ujarnya.
General Manager Regional I PT PGN Andi Sangga sebelumnya mengklaim bahwa pihaknya rutin melakukan pemeliharaan pipa di komplek tersebut. Namun, dia belum bisa memerinci jangka waktu pemeliharaan pipa di komplek itu.
"Pemeliharaan secara periodik itu kita lakukan secara berkala ya. Data-datanya (jangka waktu pemeliharaan) kan pasti akan berbeda-beda untuk setiap rumah atau setiap kompleks gitu ya. Tapi itu pasti kita lakukan secara berkala," kata Andi.
Sebelumnya, Andi menyebut instalasi pipa di komplek itu dipasang tahun 2003. Dengan begitu, pipa sudah berusia 23 tahun. Andi pun menjelaskan soal kelayakan pipa tersebut.
"Sebenarnya untuk instalasi gas itu sepanjang pemeliharaan dan pengoperasiannya sudah sesuai dengan standar keselamatan, itu tentunya masih layak ya. Untuk standar-standar pipanya, saya perlu mengecek lagi karena pipa yang digunakan jenis apa dan sebagainya itu berbeda-beda. Tapi kalau misalnya pelanggan ingin berkonsultasi kepada kami, tentunya kami sangat mendukung. Upaya-upaya kalau misalnya dilakukan pengecekan dan sebagainya, tentu kami akan datang untuk membantu hal tersebut," sebutnya.
Hingga hari ini polisi dan PGN belum menemukan titik kebocoran gas yang menyebabkan terjadinya ledakan itu. Oleh karena itu, olah TKP di lokasi ledakan itu akan dilanjutkan besok hari.
"Dalam hal ini, kita sedang mencari tahu untuk mengetahui titik kebocoran gas metana yang ada," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan saat diwawancarai di lokasi kejadian.
Untuk diketahui, ledakan itu terjadi pada Senin (20/7). Dalam peristiwa itu, ada tiga orang yang tewas tertimbun.
Sejak kejadian itu, polisi telah melakukan olah TKP. Hasil penyelidikan sejauh ini, ledakan itu dipicu karena adanya kebocoran pipa gas tanam milik PT PGN.
