Aplikasi kencan yang dapat dengan mudah diakses di internet memang memberi ruang yang sangat besar untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Namun, di balik itu, tersembunyi banyak sekali kejahatan mulai dari prostitusi online, penipuan, hingga pemerasan bagi para penggunanya.
Tim detikSumut yang ingin tahu seperti apa praktik kejahatan ini pun melakukan percobaan menggunakan salah satu aplikasi kencana. Dengan mencoba di tiga titik yang ada di Kota Medan, dan berinteraksi dengan tiga puluh akun lebih, jelas terlihat banyak sekali aksi kejahatan yang terjadi, yang bukan hanya sekadar prostitusi online.
Prostitusi dan Pornografi
Yang paling jelas terlihat adalah prostitusi online. Dari percobaan menggunakan akun anonim, tim menemukan banyak sekali tawaran 'jasa prostitusi' yang bukan hanya terhadap lawan jenis, namun sesama jenis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tawaran itu disampaikan lewat seseorang yang bekerja sendirian, namun juga ditawarkan oleh sesorang yang mengaku diorganisir dan disiapkan oleh hotel. Dari percobaan di aplikasi, penyedia jasa maksiat ini menawarkan harga mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 1 juta setiap satu jam berhubungan badan.
Proses tawar menawar ternyata diizinkan. Tawar menawar dilakukan dengan seseorang yang menjajakan diri itu secara langsung, ada juga dengan yang mereka sebut 'koordinator'ataupun 'admin'.
Ada juga yang menawarkan panggilan video mesum hingga mengirimkan video mesum. Harga yang ditawarkan untuk hal ini juga beragam sesuai dengan durasi video hingga banyaknya video.
Kasus pornografi seperti ini juga banyak terjadi. Dalam catatan Polda Sumut, mereka menangani 31 kasus pornografi sejak tahun 2024 hingga 2026, dengan 18 kasus tahun 2024, 11 kasus tahun 2025, dan di tahun 2026 ini sudah ada 2 kasus.
Tim sempat berbincang dengan salah seorang penyedia jasa bernama Bunga (bukan nama sebenarnya). Dari pengakuannya, dia terpaksa melakukan kegiatan haram itu karena tuntutan ekonomi.
"Kapan perlu aja BO, untuk bayar kos, listrik gitu," ungkapnya.
Begitu juga dengan Mawar (bukan nama sebenarnya). Kondisi ekonomi yang didorong kehidupan keluarga yang tidak harmonis membuatnya mengambil langkah pintas untuk mendapatkan uang, yaitu dengan menjajakan diri ke pria hidung belang.
Penipuan, Pengancaman dan Pemerasan
Bermula dari tawaran prostitusi online, kejahatan-kejahatan lain bermunculan. Seperti penipuan, pengancaman, hingga pemerasan. Modusnya beda-beda yang tujuan utamanya adalah mengambil uang lebih banyak dari korban.
Dari percobaan yang dilakukan tim detikSumut, ditemukan fakta jenis kelamin yang didaftarkan di aplikasi tidak sama dengan aslinya. Tim menemukan adanya seseorang yang mendaftarkan akun sebagai seorang wanita, ternyata aslinya pria.
"Shemale," tuturnya saat ditanyai detikSumut lewat pesan singkat.
Ada juga sejumlah akun yang melakukan penipuan dengan modus 'uang panjar'. Bahkan ada yang menipu dengan meminta pembayaran di awal lalu tidak dapat dihubungi, hingga pura-pura ketinggalan sesuatu dan langsung kabur.
Bahaya besar muncul ketika sudah memberikan nomor yang bisa dihubungi untuk komunikasi lebih lanjut. Hal ini membuat pelaku kejahatan lebih leluasa melakukan pengancaman hingga pemerasan.
Hal ini turut dirasakan tim yang melakukan pemantauan langsung di lapangan. Salah seorang penyedia jasa marah hingga mengancam jika tidak diberi uang meski jasanya tidak digunakan.
Pelaku bahkan mengancam akan menyasar keluarga, menyebarkan nomor, hingga membuat ribut di lokasi korban berada agar malu sudah menyewa penyedia jasa prostitusi. Saat peristiwa ini terjadi, terbukti ada banyak nomor yang tiba-tiba menghubungi dan memberikan ancaman kepada tim.
Bukan hanya itu saja, untuk menguatkan narasinya, pelaku juga mengaku memiliki hubungan dengan kepolisian. Yang dia klaim bisa saja dia minta untuk mencari keberadaan tim.
"Abangku Polda," demikian isi pesannya saat melakukan pengancaman.
Penelusuran yang dilakukan tim detikSumut ini memberikan bukti nyata akan bahaya di balik prostitusi online terutama lewat aplikasi kencan.
