Menag Bicara Santri Tewas Dianiaya di Gontor: Pesantren Ini Unik!

Berita Nasional

Menag Bicara Santri Tewas Dianiaya di Gontor: Pesantren Ini Unik!

Tim detikNews - detikSumut
Rabu, 07 Sep 2022 23:59 WIB
Komisi VIII DPR menyetujui tambahan anggaran untuk kegiatan operasional haji senilai Rp 1,5 triliun yang diajukan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas.
Menteri Agama Yaqut Colil (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas turut mengomentari peristiwa kematian AM (17) santri asal Palembang di Ponpes Gontor. Gus Yaqut menyebut pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik, sehingga pihaknya tidak bisa terlalu ikut campur.

"Pesantren itu lembaga yang otonomi, lembaga yang independen. Yang tidak bisa semua orang asal masuk ke dalamnya, nngak bisa. Pesantren ini memang unik, lembaga pendidikan yang unik," ujarnya dilansir detikNews, Rabu (7/8/2022).

Ketum GP Anshor itu menyebut Kemenag melakukan pengawasan ke seluruh pesantren yang ada di Indonesia. Akan tetapi, pihaknya tidak bisa mengintervensi Ponpes.


"Pengawasan bisa, tapi kalau disebut kita melakukan intervensi atau campur tangan yang dalam, dalam pesantren itu nggak bisa," katanya.

"Karena itu lembaga yang sangat independen dan tidak struktural di bawah Kementerian," lanjutnya.

Yaqut mengatakan, terkait kasus yang ada di Ponpes Gontor, dia mengaku masih mendalami pendekatan yang harus dilakukan.

"Karena itu pendekatan kita pun terhadap persoalan-persoalan di pesantren tidak bisa seperti kita melakukan pendekatan terhadap misalnya di Kementerian ke kantor Kemenag Provinsi atau Kabupaten, tidak bisa. Pendekatannya harus berbeda. Itu yang sedang dan terus kita lakukan," ujarnya.

Peristiwa kematian AM pertama kali terungkap saat Soimah, ibu dari almarhum AM mengadu ke Hotman Paris Hutapaea di Palembang, Sumatera Selatan.

Soimah meminta Hotman membantunya membantu mengungkap kematian anaknya, seorang santri di Pesantren Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur.

"Anak saya meninggal di Pesantren Gontor 1 Pak, yang di Jawa Timur," ujar Soimah sambil menangis duduk di samping Hotman Paris di Palembang, Minggu (4/9/2022)

Dijelaskan Soimah, anaknya bernama AM (17) itu meninggal dunia pada 22 Agustus 2022 lalu, pukul 06. 45 WIB. Dan dia baru mendapat kabar 3 jam setelahnya, tepatnya pada pukul 10.00 WIB.

"Meninggalnya itu 22 Agustus kemarin, meninggal pukul 06.45 tapi kami baru dikabari pukul 10.00 WIB, awalnya mereka mau bicara sama ayahnya," katanya.

Soimah menduga putranya itu tewas karena dianiaya. Dia berharap kasus kematian anaknya dapat di usut tuntas. Dia pun menjelaskan alasan belum berani melaporkan ke polisi karena kasus ini bersangkutan dengam lembaga besar.

"Meninggalnya karena dianiaya, saya belum berani melapor karena urusannya kan dengan lembaga besar, jadi saya mohon bapak bantu kami," ungkap Soimah sambil terus menangis.

Hotman Paris kemudian menanggapi duka yang dialami Soimah itu, dia pun menggunggah video di akun Instagramnya meminta Kapolda Jawa Timur, Irjen Nico Afinta segera untuk mengusut kematian anak Soimah yang diduga karena dianiaya.

"Halo Pak Kapolda Jawa Timur, di sini ada seorang ibu yang datang ke saya bertemu Hotman di Palembang, katanya anaknya meninggal di Gontor 1, diduga tindak kekerasan," kata Hotman sembari merekam video.

"Mohon Pak Kapolda menyelidiki soal meninggalnya anak Bu Soimah ini, diduga ada penganiayaan," sambungnya Hotman.



Simak Video "Proses Ekshumasi Santri Tewas di Gontor"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)