Pawang hujan masih menjadi bagian dari kesenian tradisional jaran kepang di Desa Pulau Gambar, Kecamatan Serba Jadi, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Kehadirannya dipercaya bukan hanya untuk mengantisipasi hujan, tetapi juga menjaga jalannya pertunjukan.
Antropolog Unimed, Rosramadhana, menjelaskan kepercayaan pada pawang hujan dapat dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat. Dalam perspektif antropologi, praktik tersebut berkaitan dengan keyakinan yang diwariskan dari generasi sebelumnya dan terus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat.
"Jadi pawang hujan itu bagian dari sebuah kepercayaan masyarakat dan itu merupakan hal-hal yang ditradisikan secara turun-temurun. Kalau dalam perspektif antropologi, kepercayaan itu merupakan sebuah believe, sebuah warisan yang sudah secara turun-temurun didasarkan kepada kepercayaan-kepercayaan masa lalu. Di samping itu, ada nilai-nilai kesakralan yang bisa diambil dari tradisi lokal pawang hujan itu," kata Rosramadhana, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rosramadhana, bertahannya tradisi pawang hujan di tengah perkembangan teknologi prakiraan cuaca juga berkaitan dengan proses enkulturasi atau pewarisan budaya. Nilai-nilai kepercayaan yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat tidak serta-merta hilang hanya karena kemajuan teknologi.
"Walaupun sudah mengenal teknologi, artinya karena itu bagian dari sebuah tradisi yang masih diperkenalkan. Dalam antropologi, ini namanya enkulturasi, pewarisan budaya secara turun-temurun agar masyarakat masih mempercayai adanya nilai-nilai yang sakral. Jadi, kecanggihan teknologi tidak sepenuhnya menghilangkan kepercayaan atau believe system dalam masyarakat," jelasnya.
Gambaran mengenai peran pawang hujan dalam kesenian jaran kepang juga ditemukan dalam penelitian Arum Mawaddah berjudul Fungsi Pawang Hujan pada Kegiatan Jaran Kepang sebagai Kearifan Lokal di Desa Pulau Gambar Kecamatan Serba Jadi 2025 itu mengungkap pawang hujan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mengantisipasi hujan selama pertunjukan.
Arum mengatakan, berdasarkan hasil wawancaranya dengan kelompok jaran kepang dan masyarakat setempat, keberadaan pawang turut memberikan rasa aman kepada pemain dan penonton. Pawang dipercaya membantu menjaga pertunjukan, termasuk ketika ada penari yang mengalami kesurupan dan sulit disadarkan.
"Yang paling menarik itu ternyata pawang hujan di sana bukan cuma orang yang 'nahan hujan', tapi dia tuh kayak penjaga pertunjukan jaran kepangnya dari awal sampai akhir. Terus, penonton itu lebih percaya kalau ada pawangnya. Kalau nggak ada pawangnya, orang-orang jadi takut pertunjukannya gagal atau ada yang kesurupan nggak terkendali. Jadi, pawang itu kayak bikin orang merasa aman," kata Arum.
Dalam penelitiannya, Arum juga menemukan tradisi pawang hujan dimaknai masyarakat sebagai bagian dari warisan leluhur, kebersamaan, serta penghormatan terhadap lingkungan dan hal-hal yang diyakini hidup berdampingan dengan manusia. Praktik tersebut diwariskan secara langsung, antara lain dengan melibatkan anak atau keponakan dalam kegiatan pawang sejak usia dini hingga mereka mempelajari doa dan bacaan yang digunakan.
Keberadaan pawang hujan dalam kesenian jaran kepang memperlihatkan bagaimana sebuah praktik kepercayaan tetap hidup di tengah perubahan zaman. Bagi masyarakat yang menjalankannya, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan jalannya pertunjukan, tetapi juga dengan nilai budaya yang terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Serba-serbi Petunjukan Seni Budaya Gelaran CT ARSA di Lumajang"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
