Kisah Legenda Nini Kawar, Wanita Tua Penjaga Danau Lau Kawar

Kisah Legenda Nini Kawar, Wanita Tua Penjaga Danau Lau Kawar

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Jumat, 25 Sep 2026 20:39 WIB
Danau Lau Kawar, Karo, Sumatera Utara
Foto: (Rudi Chandra/d'Traveler)
Karo -

Danau Lau Kawar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tidak hanya menawarkan panorama alam kaki Gunung Sinabung. Di balik pesona alamnya yang indah, ada cerita legenda yang kini masih diwariskan dan dipercaya sebagian masyarakat, yaitu Nini Kawar.

Cerita yang berkaitan dengan kisah seorang perempuan tua, Nini Kawar. Dalam kepercayaan masyarakat, Nini Kawar dipercaya sebagai penjaga Danau Lau Kawar yang dapat memberikan tulah kepada orang yang melakukan perbuatan tertentu.

Legenda Nini Kawar diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Ceritanya dapat diperoleh dari orang tua dan kakek-nenek, guru di sekolah, Guru Sibaso atau penyembuh tradisional, hingga pertunjukan guro-guro aron.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitian yang berjudul "Hyperrealitas Tradisi Lisan dalam Pencegahan Penyimpangan Sosial di Kawasan Wisata Danau Lau Kawar, Kabupaten Karo" Elvrida Purba dkk, mengatakan cerita Nini Kawar masih dikenal oleh masyarakat hingga saat ini.

Bahkan, sebagian anak muda yang berkunjung ke Lau Kawar mengetahui cerita tersebut karena mendengar dari masyarakat maupun karena rasa penasaran. Menurutnya, terdapat gagasan yang lebih luas di balik berbagai larangan yang berkembang bersama legenda tersebut.

ADVERTISEMENT

"Isi larangannya sebenarnya bentuk gagasan futuristik dalam rangka menjaga keberlangsungan lingkungan hidup agar tidak tercemar," kataElvrida.

Kisah Nini Kawar

Salah satu versi cerita yang berkembang di masyarakat mengisahkan Nini Kawar sebagai seorang perempuan tua yang tinggal di sebuah perkampungan bersama keluarganya. Suatu hari, masyarakat menggelar pesta sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang melimpah. Pesta tersebut diramaikan dengan guro-guro aron, tarian dan berbagai makanan.

Nini Kawar yang tinggal di rumah tidak ikut menghadiri pesta tersebut. Ia kemudian meminta keluarganya membawakan makanan untuknya dari tempat pesat.

Dalam perjalanan, makanan yang dibawa untuk Nini Kawar disebut dimakan oleh cucunya. Ketika sampai di rumah, makanan yang tersisa hanya tulang dan nasi.

Nini Kawar yang awalnya senang menerima makanan kemudian merasa kecewa. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, ia kemudian mengeluarkan sumpah karena merasa diperlakukan tidak semestinya oleh keluarganya.

Setelah itu, dikisahkan terjadi hujan deras dan badai hingga wilayah perkampungan tersebut tenggelam. Peristiwa itulah yang kemudian dipercaya dalam legenda sebagai asal mula terbentuknya Danau Lau Kawar.

Namun, kisah tersebut merupakan legenda yang berkembang di masyarakat. Penelitian mengenai tradisi lisan Nini Kawar juga mencatat adanya beberapa versi cerita yang ditemukan dari masyarakat dan Guru Sibaso.

Pantangan di Danau Lau Kawar

Kepercayaan terhadap sosok Nini Kawar kemudian turut melahirkan sejumlah pantangan bagi orang yang berada di kawasan Danau Lau Kawar. Pelin (56) salah seorang warga di kawasan Lau Kawar mengatakan sejumlah pantangan masih ia sampaikan kepada pengunjung yang bertanya kepadanya.

"Kalau seseorang bertanya tentang kesakralan Lau Kawar, kita jawab tidak boleh buang hajat ke danau, tidak boleh buang air kecil, tidak boleh berbicara berupa menyumpah," katanya.

Dalam penelitian Elvrida dkk, pantangan Lau Kawar yakni tidak boleh mengotori danau, merusak tanaman, melakukan perbuatan asusila, serta membawa makanan olahan berbahan anjing dan babi.

Pantangan itu dipercaya berkaitan dengan upaya menghindari tulah atau kemalangan yang dalam kepercayaan masyarakat dapat terjadi apabila seseorang melakukan penyimpangan di kawasan Lau Kawar.

Masih Menarik Perhatian Anak Muda

Meski cerita tersebut berasal dari tradisi yang diwariskan turun-temurun, legenda Nini Kawar masih menarik perhatian generasi muda.

Elvirida mengatakan sebagian anak muda datang ke Lau Kawar karena penasaran dengan cerita yang berkembang di masyarakat. Legenda itu menjadi salah satu hal yang membuat wisatawan ingin mengetahui lebih jauh Lau Kawar.

Legenda Nini Kawar juga memiliki fungsi sebagai kontrol sosial. Wisatawan yang mengetahui cerita dan pantangan tersebut cenderung lebih berhati-hati dalam menjaga sikap selama berada di kawasan Lau Kawar.

Pada akhirnya, legenda Nini Kawar menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang masih hidup di tengah perkembangan Danau Lau Kawar sebagai kawasan wisata. Cerita tersebut terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, sekaligus menyertai berbagai aturan dan kebiasaan masyarakat dalam menjaga kawasan Lau Kawar.

Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Nasib Warga Sekitar Gunung Sinabung Pasca Erupsi"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads