Simalungun tidak hanya dikenal sebagai daerah perkebunan yang berkembang pesat pada masa kolonial. Wilayah ini juga memiliki sejarah panjang tentang tumbuhnya toleransi dan keberagaman.
Dalam buku Potret Simalungun Tempoe Doeloe: Menafsir Kebudayaan Lewat Foto, sejarawan Erond L. Damanik menjelaskan bahwa perkembangan Simalungun pada awal abad ke-20 dipengaruhi oleh dua kekuatan besar, yakni modernisasi melalui perkebunan dan kehadiran misi zending.
"Peran penting Misi Zending terutama RMG dan Katolik adalah: dikenalnya agama samawi, dikenalnya pendidikan Barat, diperkenalkannya kesehatan modern lewat kegiatan diakonia, serta keterampilan hidup melalui pertanian dan sanggar budaya," tulis Damanik.
Menurut Damanik, misi zending tidak hanya menyebarkan agama, tetapi juga membawa perubahan sosial yang besar. Sekolah-sekolah modern mulai berdiri, pelayanan kesehatan berkembang, dan masyarakat lokal mulai mengenal sistem pendidikan yang lebih terstruktur.
"Demikian pula melalui pendidikan, akhirnya orang Simalungun dapat menjadi 'tuan' di negerinya sendiri," tulis Damanik.
Dampak pendidikan tersebut terlihat dari lahirnya generasi baru masyarakat Simalungun yang kemudian bekerja sebagai pejabat perkebunan, pegawai pemerintahan kolonial, pemimpin gereja, dan tokoh masyarakat.
Namun yang menarik, perkembangan agama di Simalungun berlangsung dalam suasana yang relatif terbuka. Sang Naualuh Damanik, penguasa Kerajaan Siantar, dikenal memiliki sikap toleran terhadap berbagai pemeluk agama.
Walaupun Sang Naualuh telah memeluk Islam sejak 1902, ia tetap memberikan izin bagi pembangunan gereja, sekolah milik zending, masjid, tempat pemakaman Muslim, hingga klenteng bagi masyarakat Tionghoa di Pematangsiantar.
"Bukan saja mengizinkan gereja dan sekolah, Sang Naualuh Damanik juga memberikan izin pendirian masjid dan klenteng," tulis Damanik.
Simak Video "Video Prabowo: Anak-anak Harus Dapat Pendidikan yang Baik, MBG Saja Tak Cukup"
(astj/astj)