Kisah Kedatangan Suku Batak di Medan, Berawal dari Datangnya Belanda

Kisah Kedatangan Suku Batak di Medan, Berawal dari Datangnya Belanda

Nanda Marbun - detikSumut
Selasa, 12 Mei 2026 14:01 WIB
Titik Nol Kota Medan
Titik Nol Kota Medan di masa lalu F9oto: Istimewa)
Medan -

Kota Medan sedari awal dihuni oleh etnis Melayu dan Karo. Seiring berjalannya waktu, Medan berkembang menjadi kota multikultural karena dihuni oleh beragam suku, salah satunya Batak.

"Sejak lama kota ini memang dihuni oleh beragam etnik dan agama yang multikultural. Awalnya wilayah Medan dihuni oleh etnik Melayu dan Karo yang membentuk relasi unik pesisir hingga pedalaman," ujar Dosen Sejarah USU, Kiki Maulana Affandi, kepada detikSumut Selasa (12/5/2026).

Menurutnya, perubahan besar mulai terjadi ketika investasi perkebunan masuk ke Deli pada pertengahan abad ke-19 pada masa kolonial Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sejak datangnya Belanda dan investasi perkebunan di Deli pada pertengahan abad 19, mulai menjamur ragam etnik di wilayah ini. Ragam etnik ini terdiri dari orang Melayu, Tionghoa, Batak, Jawa, India dan etnik lainnya," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Dalam Catatan Kolonial Disebut Batak

Ia mengungkapkan, dalam arsip kolonial Belanda, masyarakat Batak tidak diklasifikasikan secara spesifik berdasarkan subetnik seperti saat ini.

"Dalam catatan kolonial Belanda memang tidak diklasifikasikan secara spesifik orang-orang bermarga Karo, Simalungun, Toba, Mandailing. Mereka hanya menyebut orang Batak," katanya.

Migrasi Besar Batak Toba ke Medan

Kehadiran masyarakat Batak Toba dalam jumlah besar di Kota Medan mulai terlihat pada dekade 1980-an hingga 1990-an.

"Di Medan sendiri, orang Batak Toba mulai migrasi dan datang dengan jumlah banyak ke kota ini pada tahun 1980-an dan 1990-an. Kehadiran orang Batak Toba memberikan warna tersendiri dalam kebudayaan multikultural di kota ini seperti kuliner, kesenian, dan relasi antar etnik di kota ini," ungkapnya.

Ia menjelaskan, masyarakat Batak Toba umumnya menetap di wilayah pinggiran maupun pintu masuk Kota Medan.

"Orang Batak Toba kebanyakan bermukim di pinggiran kota Medan atau pintu masuk kota seperti di Amplas atau daerah Teladan. Selain itu, orang Batak Toba juga banyak bermukim di daerah pinggiran Helvetia atau Sukadono," lanjutnya.

Lahir dari Relasi Antar Etnik yang Keras

Di balik citra Medan sebagai kota multikultural, kehidupan masyarakatnya juga dibentuk oleh dinamika sosial yang keras antar kelompok etnik pada masa lalu.

"Sebenarnya Medan terbentuk dari hubungan antar etnik yang keras di antara kelompok masyarakat yang hidup di dalamnya. Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, seringkali muncul istilah Hati-Hati, Ini Medan Bung untuk para perantau yang baru saja menginjakkan kaki di Medan," ujarnya.

Menurutnya, kerasnya kehidupan di Medan saat itu dipengaruhi persaingan antar kelompok etnik yang hidup di kota tersebut.

"Karena kerasnya kehidupan di Medan diakibatkan persaingan antar kelompok etnik yang ada di dalamnya. Sifat keras ini yang membentuk karakter masyarakat Medan baik dari suaranya, tindakannya, tidak mengenal dari suku apa dia berasal," jelasnya.

Meski demikian, kehidupan toleransi di Medan dinilai tetap terjaga hingga kini.

"Meskipun demikian, kehidupan toleransi yang ada di Medan cukup baik salah satunya dikarenakan tidak ada satu pun kelompok etnik yang mendominasi dalam relasi antar etnik di kota ini," pungkasnya.

Keberadaan Batak Toba di Kota Medan pun menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang multikulturalisme kota ini. Dari budaya, bahasa, hingga kehidupan sosial, keberagaman tersebut terus membentuk identitas khas Medan yang dikenal hingga sekarang.

Artikel ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Tarif Baru Parkir di Medan: Motor Rp 2 Ribu, Mobil 4 Ribu"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads