Ketika Sepertiga Tanah Simalungun Berubah Menjadi Perkebunan Kolonial

Sumut In History

Ketika Sepertiga Tanah Simalungun Berubah Menjadi Perkebunan Kolonial

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Rabu, 20 Mei 2026 08:00 WIB
Keterangan foto : Karet dan Kopi Robusta di Siantar Estate, milik HVA, 1920 (Sumber: kitlv.nl)
Foto: Keterangan foto : Karet dan Kopi Robusta di Siantar Estate, milik HVA, 1920 (Sumber: kitlv.nl)
Simalungun -

Simalungun menyimpan sejarah penting dalam perkembangan ekonomi Sumatera Utara. Jauh sebelum dikenal sebagai daerah penghasil teh, karet, kopi, dan kelapa sawit, wilayah ini mengalami transformasi besar pada masa kolonial Belanda. Pembukaan perkebunan dalam skala luas tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga membentuk struktur sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat yang pengaruhnya masih terasa hingga hari ini.

Sejarawan Erond L. Damanik dalam bukunya Potret Simalungun Tempoe Doeloe: Menafsir Kebudayaan Lewat Foto mencatat bahwa hingga tahun 1938, sekitar sepertiga wilayah Simalungun telah menjadi areal perkebunan. Dari total luas 151.295 hektare, sekitar 120.000 hektare telah dijadikan tanah konsesi perkebunan yang diberikan kepada 46 pengusaha.

"Sebagaimana diketahui bahwa hingga tahun 1938, sepertiga tanah Simalungun sudah menjadi perkebunan," tulis Damanik dalam bukunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Damanik, komoditas yang dibudidayakan saat itu meliputi karet, teh, kopi, dan kelapa sawit. Dalam salah satu foto arsip tahun 1920, terlihat hamparan "Karet dan Kopi Robusta di Siantar Estate" yang menunjukkan betapa luas dan terorganisasinya sistem perkebunan kolonial di kawasan ini.

"Di antaranya 14 perkebunan teh, 20 perkebunan karet, 10 perkebunan campuran (karet, teh, kopi dan kelapa sawit)," tulis Damanik saat menjelaskan komposisi perkebunan di Simalungun.

ADVERTISEMENT

Kawasan Pematangsiantar menjadi salah satu pusat penting perkembangan perkebunan tersebut. Hak konsesi di wilayah ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar seperti HVA, Goodyear, dan Lonsum. Perusahaan-perusahaan inilah yang kemudian membawa investasi, teknologi, dan infrastruktur modern ke Sumatera Timur.

"Perkebunan yang menjadi penyokong Siantar telah jatuh kepada pengusaha Belanda dan mancanegara seperti HVA, Goodyear dan Lonsum," tulis Damanik.

Menurut Damanik, kehadiran perkebunan tidak sekadar menciptakan keuntungan ekonomi bagi pemerintah kolonial, tetapi juga mendorong lahirnya masyarakat kota yang majemuk. Kedatangan pekerja dari berbagai daerah di Nusantara membentuk keragaman etnis yang hingga kini menjadi ciri khas Pematangsiantar.

"Eksistensi perkebunan inilah yang pada akhirnya menopang dan membentuk masyarakat Siantar yang majemuk," tulisnya.

Selain menghadirkan perubahan sosial, perkebunan juga mendorong modernisasi. Jalan raya, rel kereta api, pabrik pengolahan, gudang, rumah sakit, dan permukiman pekerja tumbuh seiring berkembangnya industri perkebunan. Perubahan tersebut menjadikan Simalungun sebagai salah satu wilayah paling dinamis di Sumatera Timur pada awal abad ke-20.

Damanik menekankan bahwa foto-foto kolonial dapat digunakan sebagai sumber sejarah yang penting. Menurutnya, foto tidak hanya menggambarkan masa lalu, tetapi juga membantu peneliti memahami konteks sosial dan budaya dari suatu zaman.

"Foto bukan saja menggambarkan situasi masa lalu, tetapi juga menjadi alat analisis guna membentang persoalan kekinian," tulis Damanik.

Ia juga menyebut bahwa foto merupakan "jejak digital masa lampau" yang dapat membantu generasi sekarang memahami bagaimana masyarakat dan kebudayaan terbentuk.

Lebih jauh, Damanik menegaskan bahwa sejarah memiliki fungsi penting bagi kehidupan masa kini.

"Dari sebuah peristiwa yang benar sangat potensial ditiru untuk kehidupan masa kini, sedangkan dari sejarah kelam ialah untuk menghindari agar peristiwa itu tidak terulang," tulisnya.

Kini, hamparan kebun teh di Sidamanik, kebun sawit, serta jejak infrastruktur lama menjadi pengingat bahwa sejarah perkebunan telah memainkan peran besar dalam membentuk identitas Simalungun dan Pematangsiantar.

Perkebunan kolonial memang lahir dari kepentingan ekonomi Belanda. Namun di balik itu, industri ini meninggalkan warisan besar: membentuk kota, menciptakan masyarakat multietnis, dan meletakkan dasar modernisasi di Sumatera Utara.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads