Dentuman gendang bertalu perlahan, menggema di tengah upacara adat Mandailing. Irama yang terdengar bukan sekadar musik, melainkan panggilan yang sarat makna sebuah jembatan antara manusia dan leluhur.
Itulah Gondrang Sembilan, warisan budaya yang hingga kini masih dijaga, meski tergerus zaman. Gondrang Sembilan dikenal sebagai ensambel musik tradisional yang terdiri dari sembilan gendang dengan ukuran berbeda, dilengkapi gong dan alat musik lainnya. Namun lebih dari itu, kesenian ini memiliki fungsi yang jauh melampaui hiburan.
Dalam buku "Fungsi dan Peranan Gondrang Sembilan" (2012), dijelaskan bahwa musik ini erat kaitannya dengan kehidupan spiritual masyarakat Mandailing.
"Gondrang Sembilan bukan sekadar alat musik, tetapi menjadi media komunikasi antara manusia dengan roh leluhur dalam pelaksanaan upacara adat."
Dalam berbagai ritual-mulai dari pernikahan hingga upacara kematian-Gondrang Sembilan selalu hadir sebagai elemen penting. Setiap dentuman gendang diyakini membawa pesan, menyampaikan doa, bahkan memanggil kekuatan tak kasatmata.
Tidak hanya itu, nilai sosial juga melekat kuat dalam tradisi ini. Ketika Gondrang Sembilan dimainkan, masyarakat berkumpul, berinteraksi, dan mempererat hubungan satu sama lain.
"Dalam setiap pertunjukannya, Gondrang Sembilan berperan mempererat hubungan sosial masyarakat serta menjadi sarana kebersamaan dalam komunitas."
Makna yang terkandung dalam setiap irama pun tidak sembarangan. Ada simbol, ada pesan, dan ada filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun.
"Setiap bunyi dan ritme Gondrang Sembilan memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya dan kepercayaan masyarakat Mandailing."
Simak Video "Video: Mengintip Proses Pembuatan Rindik Bambu"
(astj/astj)