Jejak Etnis Sunda di Sumut: Buruh Perkebunan hingga Lestarikan Budaya

Nanda - detikSumut
Rabu, 15 Apr 2026 12:31 WIB
Ilustrasi ferstival budaya Sunda (Foto: Algi Febri Sugita/NurPhoto via Getty Images)
Medan -

Keberadaan etnis Sunda di Sumatera Utara (Sumut) memiliki jejak sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perkembangan perkebunan di wilayah Sumatera Timur. Hingga kini, eksistensi mereka masih dapat dirasakan melalui kuliner, seni, hingga organisasi budaya.

Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara, Kiki Maulana Affandi, menjelaskan bahwa keberadaan orang Sunda di Sumatera Utara dapat ditelusuri dari berbagai aspek budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.

"Keberadaan orang-orang Sunda dapat dilacak eksistensinya dari pelbagai kuliner dan seni seperti Tahu Sumedang, Es Dawet Banjarnegara, dan kesenian angklung," ujarnya kepada detikSumut Rabu (14/4/2026).

Tak Lepas dari Sejarah Perkebunan

Ia menyebut kehadiran etnis Sunda di wilayah ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang industri perkebunan di Sumatera Timur. Pada masa itu, tenaga kerja didatangkan dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan buruh di sektor perkebunan.

"Keberadaan orang Sunda di Sumatera Utara ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkebunan di Sumatera Timur. Kedatangan orang Sunda berawal dari direkrutnya tenaga kerja dari Pulau Jawa ke perkebunan Sumatera Timur," jelasnya.

Masuknya Orang Sunda di Awal Abad ke-20

Menurutnya, meskipun mayoritas pekerja berasal dari etnis Jawa, pada awal abad ke-20 mulai terjadi perubahan komposisi tenaga kerja. Orang Sunda dan Banten mulai dipekerjakan, khususnya di sektor perkebunan tanaman keras.

"Memang mayoritas pekerja adalah orang Jawa, tetapi memasuki abad 20, orang Sunda dan Banten mulai dipekerjakan sebagai buruh perkebunan terutama di perkebunan tanaman keras di Sumatera Timur," katanya.

Perkebunan tanaman keras tersebut meliputi komoditas seperti karet, teh, kopi, dan lainnya. Diversifikasi tanaman ini mulai berkembang setelah berakhirnya abad ke-19, ketika perkebunan tidak lagi hanya berfokus pada tembakau.

"Setelah berakhirnya abad 19, mulai dilakukan diversifikasi tanaman perkebunan dari tanaman tembakau ke tanaman karet, kopi, teh dan lainnya. Sebaran perkebunan tanaman keras ini berada di Serdang Bedagai, Simalungun dan Asahan," ungkapnya.

Seiring dengan perkembangan tersebut, terbentuklah permukiman-permukiman etnis Sunda dan Banten di wilayah-wilayah sekitar perkebunan. Kehadiran mereka kemudian menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat Sumatera Utara.



Simak Video "Melakukan Tantangan Lompat Batu di Mata Air Bah Tio, Sumatera Utara "


(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork