Keberadaan etnis Sunda di Sumatera Utara (Sumut) memiliki jejak sejarah panjang yang tak terpisahkan dari perkembangan perkebunan di wilayah Sumatera Timur. Hingga kini, eksistensi mereka masih dapat dirasakan melalui kuliner, seni, hingga organisasi budaya.
Dosen Sejarah Universitas Sumatera Utara, Kiki Maulana Affandi, menjelaskan bahwa keberadaan orang Sunda di Sumatera Utara dapat ditelusuri dari berbagai aspek budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
"Keberadaan orang-orang Sunda dapat dilacak eksistensinya dari pelbagai kuliner dan seni seperti Tahu Sumedang, Es Dawet Banjarnegara, dan kesenian angklung," ujarnya kepada detikSumut Rabu (14/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak Lepas dari Sejarah Perkebunan
Ia menyebut kehadiran etnis Sunda di wilayah ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang industri perkebunan di Sumatera Timur. Pada masa itu, tenaga kerja didatangkan dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan buruh di sektor perkebunan.
"Keberadaan orang Sunda di Sumatera Utara ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkebunan di Sumatera Timur. Kedatangan orang Sunda berawal dari direkrutnya tenaga kerja dari Pulau Jawa ke perkebunan Sumatera Timur," jelasnya.
Masuknya Orang Sunda di Awal Abad ke-20
Menurutnya, meskipun mayoritas pekerja berasal dari etnis Jawa, pada awal abad ke-20 mulai terjadi perubahan komposisi tenaga kerja. Orang Sunda dan Banten mulai dipekerjakan, khususnya di sektor perkebunan tanaman keras.
"Memang mayoritas pekerja adalah orang Jawa, tetapi memasuki abad 20, orang Sunda dan Banten mulai dipekerjakan sebagai buruh perkebunan terutama di perkebunan tanaman keras di Sumatera Timur," katanya.
Perkebunan tanaman keras tersebut meliputi komoditas seperti karet, teh, kopi, dan lainnya. Diversifikasi tanaman ini mulai berkembang setelah berakhirnya abad ke-19, ketika perkebunan tidak lagi hanya berfokus pada tembakau.
"Setelah berakhirnya abad 19, mulai dilakukan diversifikasi tanaman perkebunan dari tanaman tembakau ke tanaman karet, kopi, teh dan lainnya. Sebaran perkebunan tanaman keras ini berada di Serdang Bedagai, Simalungun dan Asahan," ungkapnya.
Seiring dengan perkembangan tersebut, terbentuklah permukiman-permukiman etnis Sunda dan Banten di wilayah-wilayah sekitar perkebunan. Kehadiran mereka kemudian menjadi bagian dari dinamika sosial masyarakat Sumatera Utara.
Jejak Sunda di Kota Medan
Jejak keberadaan etnis Sunda juga dapat ditemukan di Kota Medan melalui penamaan wilayah seperti Jalan Pasundan dan Jalan PWS, yang menjadi penanda historis keberadaan komunitas ini di ibu kota provinsi.
Lebih lanjut, komunitas Sunda di Sumatera Utara juga memiliki wadah organisasi yang telah berdiri sejak lama, yakni Paguyuban Wargi Sunda (PWS).
"Orang Sunda di Sumatera Utara berkumpul dan berorganisasi dalam Paguyuban Wargi Sunda (PWS) yang sudah berdiri sejak tahun 1936. PWS ini merupakan perkumpulan yang bertujuan melestarikan budaya, seni dan adat istiadat Sunda di Tanah Deli," pungkasnya.
Beragam Alasan Orang Sunda Datang ke Sumut
Selain itu, pasca kemerdekaan, migrasi masyarakat Sunda ke Sumatera Utara terus berlangsung dengan latar belakang yang semakin beragam.
Mulai dari penugasan negara, seperti aparat keamanan dan pegawai pemerintah, dorongan ekonomi untuk mengadu nasib sebagai pekerja maupun pedagang, hingga faktor pendidikan sejak akhir 1980-an. Pada periode ini, mahasiswa dari Jawa Barat mulai datang ke Medan untuk menempuh studi di berbagai perguruan tinggi.
Dari Sementara hingga Menetap Turun-Temurun
Sebagian dari migrasi tersebut bersifat sementara, terutama bagi mereka yang datang untuk tugas atau pendidikan. Namun, berbeda dengan para buruh perkebunan pada masa kolonial, banyak di antaranya yang menetap dan berkembang secara turun-temurun di Sumatera Utara. Hal ini semakin memperkuat keberadaan dan kontribusi etnis Sunda dalam membentuk keberagaman sosial dan budaya di wilayah tersebut.
Keberadaan etnis Sunda di Sumatera Utara menjadi bagian penting dari mozaik keberagaman budaya di wilayah ini. Dari jejak sejarah sebagai buruh perkebunan hingga kini aktif melestarikan budaya, komunitas Sunda terus berkontribusi dalam memperkaya identitas sosial dan budaya di Tanah Deli.
Simak Video "Video: RS Muhammadiyah Sumatera Utara Bantah Angkat Rahim Pasien Tanpa Izin"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































