Di balik pesatnya perkembangan ekonomi Sumatera Utara pada masa kolonial, terdapat peran besar etnis Tionghoa yang jarang disorot secara utuh. Dari tenaga kerja hingga pengusaha besar, mereka menjadi bagian penting dalam membangun sistem ekonomi di Tanah Deli.
Sejak abad ke-15, kawasan Selat Malaka telah menjadi jalur utama perdagangan dunia yang menghubungkan berbagai bangsa, termasuk pedagang dari Tiongkok. Jalur ini membuka awal interaksi ekonomi antara etnis Tionghoa dan wilayah Sumatera.
Ekspedisi yang dipimpin oleh Zheng He menjadi salah satu tonggak penting dalam memperkuat hubungan tersebut. Dalam kajian "The Ming Voyages and the Indian Ocean Trade Network" karya Geoff Wade, dijelaskan bahwa pelayaran Zheng He berperan dalam memperluas jaringan perdagangan Tiongkok hingga ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Sumatera.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jurnal "Chinese Settlement in Southeast Asia and Economic Networks" oleh Wang Gungwu, disebutkan bahwa komunitas Tionghoa tidak hanya berperan sebagai pedagang, tetapi juga sebagai penghubung utama dalam jaringan distribusi ekonomi regional.
Memasuki abad ke-19, peran etnis Tionghoa di Sumatera Utara semakin menguat seiring berkembangnya sistem perkebunan di wilayah Deli. Dalam jurnal "Plantation Economy in East Sumatra, 1863-1942" karya Jan Breman, dijelaskan bahwa sistem ekonomi kolonial sangat bergantung pada tenaga kerja migran dan jaringan distribusi yang banyak melibatkan komunitas Tionghoa.
Sejarawan Erond Litno Damanik juga menegaskan bahwa etnis Tionghoa memiliki posisi strategis dalam sistem ekonomi kolonial, khususnya dalam distribusi komoditas perkebunan seperti tembakau Deli.
"Etnis Tionghoa menjadi penghubung penting dalam rantai distribusi ekonomi kolonial," tulisnya dalam kajian sejarah Sumatera Timur.
Hasil wawancara dengan sejarawan Dr. Dirk semakin memperjelas peran tersebut, terutama dalam konteks tenaga kerja dan sistem ekonomi global.
"Di Sumatera Timur waktu itu tidak banyak tenaga kerja lokal yang mau bekerja di perkebunan. Karena itu didatangkan pekerja dari luar, termasuk dari Cina, melalui Penang dan Singapura," jelasnya.
Menurutnya, arus migrasi tersebut berkaitan erat dengan kondisi ekonomi global saat itu.
"Orang datang karena di tempat asalnya sulit hidup, sementara di Deli ada peluang ekonomi. Ini bagian dari jaringan perdagangan internasional," ujarnya.
Tidak hanya sebagai pekerja, etnis Tionghoa juga memainkan peran penting dalam sistem ekonomi kolonial melalui mekanisme monopoli.
"Pemerintah kolonial menjual hak monopoli-seperti opium, perdagangan barang, hingga infrastruktur-kepada pihak swasta, dan banyak di antaranya dipegang oleh pengusaha Tionghoa," jelasnya.
Salah satu tokoh paling menonjol adalah Tjong A Fie, pengusaha yang dikenal luas di Medan pada masa itu.
"Tjong A Fie menjadi sangat kaya dari sistem tersebut. Ia memiliki banyak perkebunan dan mempekerjakan ribuan orang," kata Dr. Dirk.
Namun, kekayaan tersebut juga diiringi kontribusi sosial yang besar.
"Ia membangun rumah sakit, tempat ibadah, dan membantu masyarakat. Karena itu namanya sangat dihormati," tambahnya.
Di sisi lain, sistem ekonomi yang berkembang saat itu tidak lepas dari kritik.
"Ini adalah sistem kapitalisme murni. Investor menuntut keuntungan, sehingga tekanan ke bawah sangat besar, terutama bagi para pekerja," ungkapnya.
Peran etnis Tionghoa dalam sejarah ekonomi Sumatera Utara menunjukkan bagaimana sebuah komunitas dapat bergerak dari lapisan bawah sebagai tenaga kerja hingga menjadi aktor penting dalam sistem ekonomi. Dari jalur perdagangan di Selat Malaka hingga berkembangnya pusat perkebunan di Tanah Deli, jejak tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah ekonomi daerah ini.
Baca juga: Melihat Siu San Keng, Vihara Tertua di Medan |
Simak Video "Video Kondisi Tjong A Fie Mansion yang Ikut Terendam Banjir di Medan"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































