Pura Agung Raksa Bhuana di Medan, Dibangun Pakai Tukang-Bahan dari Bali

Pura Agung Raksa Bhuana di Medan, Dibangun Pakai Tukang-Bahan dari Bali

Siti Asyaroh - detikSumut
Sabtu, 11 Apr 2026 05:01 WIB
Pura Agung Raksa Bhuana di Kota Medan (Siti Asyaroh/detikcom)
Foto: Pura Agung Raksa Bhuana di Kota Medan (Siti Asyaroh/detikcom)
Medan -

Pura Agung Raksa Bhuana, merupakan satu dari dua pura di Kota Medan. Bangunan tempat ibadah ini memiliki sejarah panjang yang berkembang secara bertahap sejak awal pembangunannya hingga kini.

Romo Mangku, Suroto, menjelaskan bahwa bangunan ini mulai didirikan pada 1974. Proses pembangunan berlangsung hingga 10 tahun atau satu dekade.

"Bangunan ini didirikan pada 1974. Setelah itu rampungnya tahun 1984. Para pekerja diambil dari Bali, pembangunannya bertahap," ujar pemangku pura itu kepada detikSumut, Kamis (9/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada masa awal, bangunan masih berbentuk sederhana dengan material batu bata sebelum akhirnya mengalami berbagai perubahan. Seiring waktu, tempat ibadah ini telah beberapa kali direnovasi untuk memperbaiki sekaligus memperindah bangunan.

Pemugaran besar dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembangunan candi bentar, dilanjutkan candi kurung. Setelah sempat terhenti, pembangunan kembali berlanjut berkat dukungan donatur hingga akhirnya berkembang lebih luas.

ADVERTISEMENT

"Telah terjadi beberapa kali pemugaran. Candi bentar paling depan tahun 2009, setelah itu candi kurung tahun 2011 kalau tidak salah, kemudian mandeg. Kemudian ada donatur masuk lagi," kata Suroto.

Ia juga menambahkan bahwa pada 2023 dilakukan pembangunan tambahan yang melengkapi kompleks tersebut.

Dukungan dana dari pemerintah turut mempercepat penyempurnaan fasilitas. Dengan bantuan sebesar Rp 1 miliar dari gubernur, sejumlah bangunan pelengkap seperti padmasana, taksu, kul kul, aling-aling, hingga beji berhasil diwujudkan. Proses pembangunan ini melibatkan para pekerja yang berasal dari Bali. Bahan batu yang digunakan juga berasal dari Bali serta Muntilan, Yogyakarta. Keduanya memiliki perbedaan warna dalam bangunan.

"Bahan-bahannya dari Bali, tukang-tukangnya juga Bali. Sebagian juga dari Muntilan Yogyakarta, dari bongkahan batu besar kemudian dipotong-potong menggunakan mesin. Makanya warnanya beda. Yang hitam dari Bali yang abu-abu dari Yogyakarta" jelasnya.

Selain menjadi tempat ibadah, pura ini juga menarik perhatian kalangan akademisi. Banyak mahasiswa datang untuk melakukan observasi langsung terkait arsitektur pura dan aktivitas keagamaan di dalamnya.

Salah satu mahasiswa di Medan, Heri mengaku tertarik mempelajari perpaduan budaya dalam pembangunan tempat tersebut.

"Kami datang ke sini untuk belajar langsung. Bangunannya unik karena ada perpaduan Bali dan di sini pun berasa kayak Bali. Jadi bisa untuk bahan studi juga," tuturnya.

Dalam kesehariannya, tempat ibadah ini aktif digunakan umat untuk bersembahyang, khususnya pada momen purnama dan tilem (bulan mati). Ibadah rutin dilaksanakan pada malam hari dengan suasana khusyuk.

"Umat di sini beribadah setiap purnama dan tilem. Kita upacara dari setengah 8 malam," ujarnya.

Secara fisik, bangunan ini memiliki panjang 62 meter dan lebar 40 meter, dengan kapasitas menampung sekitar 200 umat. Pura Agung Raksa Bhuana beralamat di Jalan Polonia No.216, Polonia, Kec. Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara.

Artikel ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: BBM Langka Berhari-hari di Bali: Antrean Berjam-jam "
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads