Komponen Penting dalam Prosesi Tepung Tawar Budaya Melayu

Siti Asyaroh - detikSumut
Kamis, 02 Apr 2026 08:30 WIB
Ilustrasi tradisi Tepung Tawar (Foto: Raja Adil Siregar/detikSumut)
Medan -

Tradisi tepung tawar merupakan salah satu ritual penting dalam budaya Melayu yang sarat makna simbolik dan spiritual. Ada tiga komponen di tradisi tepung tawar yang memiliki filosofi mendalam.

Budayawan Melayu, M. Muhar, dalam praktiknya, komponen pertama dari tepung tawar adalah ramuan penabur, yaitu bahan-bahan yang ditaburkan sebagai lambang kebahagiaan dan nilai kehidupan.

Ramuan ini terdiri dari beras putih yang melambangkan kesuburan, beras kuning sebagai simbol kemuliaan, bertih yang menggambarkan perkembangan, bunga rampai yang mencerminkan keharuman nama, serta tepung atau bedak yang bermakna kesejukan hati.

Komponen kedua adalah ramuan perincis atau rinjis, yakni campuran air dan daun-daunan simbolik yang digunakan dalam prosesi percikan. Daun-daunan seperti daun sepenuh, sedingin, rumput sambau, kalinjuhang, jejurun, dan pepulut memiliki makna perlindungan, kesehatan, dan ketenangan.

Sementara itu, campuran air dan limau purut berfungsi sebagai media penyucian, baik secara fisik maupun batin.

"Daun dan air dalam ramuan rinjis bukan sekadar bahan, tetapi simbol perlindungan, kesehatan, ketenangan, dan penyucian bagi yang menjalani prosesi," jelasnya, Rabu (1/4/2026).

Komponen ketiga adalah pedupaan atau perasapan, yang memberikan unsur sakral dalam prosesi. Asap yang dihasilkan menjadi simbol penguat nilai spiritual dan menghadirkan suasana khidmat.

"Pedupaan memberi unsur sakral dalam prosesi, sebagai penguat nilai spiritual yang menyertai doa-doa dalam tepung tawar," tambahnya.

Tepung tawar biasanya dilakukan dalam berbagai peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Melayu. Prosesi ini kerap dipadukan dengan tradisi lain seperti Pulut Balai yang melambangkan kemuliaan dan kehormatan, serta upah-upah atau jeput semangat yang bertujuan mengembalikan semangat seseorang.

Hal ini menunjukkan bahwa tepung tawar tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem ritual Melayu yang lebih luas.

"Bahwa tepung tawar adalah ritual yang sangat kaya simbol dan terstruktur, serta menjadi bagian dari ekosistem budaya Melayu," tutupnya.


Artikel ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom



Simak Video "Video: Jadi Hotel Favorit Anak! Intip Keseruan Kids Club Trans Hotel Jakarta"

(astj/astj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork