Makna Tepung Tawar dalam Tradisi Melayu, Simbol Restu hingga Harmoni Sosial

Makna Tepung Tawar dalam Tradisi Melayu, Simbol Restu hingga Harmoni Sosial

Siti Asyaroh - detikSumut
Selasa, 31 Mar 2026 07:29 WIB
Tradisi tepuk tepung tawar.
Ilustrasi tepung tawar (Foto: Raja Adil Siregar/detikSumut)
Medan -

Tradisi tepung tawar masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Melayu hingga saat ini. Ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai bentuk doa dan restu, tetapi juga memiliki filosofi mendalam yang berkaitan dengan keikhlasan dan keharmonisan hidup.

Budayawan Melayu, M. Muhar, menjelaskan bahwa dalam pandangan budaya Melayu, tepung tawar mengandung makna "menetralisir" segala hal negatif dalam kehidupan.

"Dalam filosofi Melayu disebut segala menjadi tawar, artinya tidak ada lagi rasa tidak suka, dendam, atau hal negatif," ujarnya, Senin (30/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, penggunaan bahan-bahan seperti beras, bunga, dan tepung bukan tanpa makna. Semua elemen tersebut melambangkan kebahagiaan, kesuburan, dan kemuliaan hidup yang diharapkan bagi seseorang yang menjalani prosesi tersebut.

Lebih jauh, Muhar menekankan bahwa tepung tawar juga berfungsi sebagai penguat harmoni sosial. Dalam prosesi seperti pernikahan, orang-orang yang melakukan tepung tawar dianggap telah memberikan restu kepada pasangan tersebut secara tulus.

ADVERTISEMENT

"Dalam pernikahan, orang yang menepungtawari itu berarti sudah merestui pasangan tersebut dengan tulus. Jadi, makna terdalamnya bukan hanya doa, tapi juga bersebati, keikhlasan, dan bersesuaian," jelasnya.

Tradisi ini umumnya dilakukan dalam berbagai momen penting atau rites of passage, seperti pernikahan, khitanan, kelahiran, naik rumah, hingga khatam Al-Qur'an. Selain itu, tepung tawar juga kerap dipadukan dengan tradisi lain seperti pulut balai sebagai simbol kemuliaan dan upah-upah yang bermakna mengembalikan semangat.

Muhar menilai, keberlangsungan tradisi ini hingga kini tidak terlepas dari nilai-nilai yang tetap relevan di tengah masyarakat modern.

"Nilai mengikhlaskan, memberi restu, dan menyatukan keluarga itu masih sangat dibutuhkan. Bahkan di zaman sekarang, makna menetralkan konflik dan mempererat hubungan justru semakin penting," pungkasnya.

Dengan demikian, tepung tawar bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian dari sistem nilai budaya Melayu yang menekankan kebersamaan, keikhlasan, dan keharmonisan dalam kehidupan sosial.

Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom



(nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads