Kisah Perempuan Batak Topang Ekonomi Keluarga di Kampung Lewat Shopee

Kisah Perempuan Batak Topang Ekonomi Keluarga di Kampung Lewat Shopee

Juita Sinuhaji - detikSumut
Minggu, 30 Agu 2026 22:02 WIB
Devi bersama opungnya hendak memanjat pohon kemenyan. (Istimewa)
Foto: Devi bersama opungnya hendak memanjat pohon kemenyan. (Istimewa)
Medan -

Keputusan untuk pulang ke kampung halaman bukan selalu berarti meninggalkan mimpi. Bagi sebagian perempuan Batak kembali ke tanah leluhur menjadi bagian dari perjalanan hidup hingga merawat orang tua. Sebagian lagi harus menopang ekonomi keluarga dengan kreativitas yang dimiliki agar asap dapur tetap mengepul.

Di tengah gempuran anak muda zaman sekarang berlomba-lomba ke ibu kota, seorang putri Batak bernama Devi Vebryanti Simanungkalit (25) yang berasal dari Desa Situmeang Hasundutan, Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, memilih pulang ke kampung halaman dan memanfaatkan teknologi digital sebagai jalan hidup tetap produktif.

Melalui aplikasi Shopee, ia menjalankan aktivitas menjual produk getah kemenyan yang sudah sejak lama digeluti keluarga Devi hingga menjadi napas kehidupan. Pilihan itu, lahir dari diri sendiri sekaligus keyakinannya bahwa anak muda tetap memiliki ruang untuk berkarya sekalipun di kampung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan telepon genggam dan akses internet, Devi perlahan membuka usaha tanpa harus meninggalkan keluarga dan tidak merusak pohon kemenyan yang telah mereka jaga sejak dari dulu.

Setiap hari, di sela - sela kesibukan Devi dalam mengelola aktivitas digitalnya. Dari ruang sederhana, bahkan di ruang terbuka yang bersatu dengan alam, ia belajar memasarkan produk, membuat konten, melayani pelanggan hingga memahami kebutuhan pasar saat ini.

ADVERTISEMENT

Sebelum ke kampung halaman, Devi pernah bekerja di salah satu lembaga negara di Jakarta. Akhirnya, ia memutuskan pulang berjumpa dengan keluarga dan menggeluti bisnis kemenyan. Devi merasa ada peluang besar dari bisnis kemenyan yang selama ini digeluti keluarganya. Dia pun percaya bisa sukses lewat usaha itu.

"Getah kemenyan memiliki potensi besar dan harganya mahal, sejak November 2025 saya sudah menggeluti kemenyan mempromosikannya di sosial media. Aku yakin akan membuahkan hasil dan sukses suatu saat nanti," kata Devi kepada detik Sumut, Minggu (30/8/2026).

Kisah Devi menunjukkan, ketika pulang ke kampung halaman tidak selalu identik dengan keterbatasan. Dengan kemauan beradaptasi terhadap teknologi, kampung halaman dapat menjadi tempat perempuan muda membangun kemandirian ekonomi.

Bagi Devi dan keluarganya, kemenyan bukan sekedar pohon tapi napas kehidupan yang tak ternilai. Kemenyan kerap digunakan sebagai obat, wewangian dan juga erat dengan nilai sosial, budaya dan roda ekonomi keluarga.

Di tengah masyarakat Batak Toba, kemenyan memiliki makna spiritual yang kuat, tercermin dalam legenda, ritual adat, serta tata cara pengelolaan hutan yang dijaga secara turun-temurun.

Alasan Jual Kemenyan di Shopee

Devi mengatakan awalnya, ia menambahkan produk getah kemenyan di aplikasi Shopee karena permintaan dari pembelinya. Tidak hanya itu, cukup banyak juga pelanggan menanyakan hal yang sama.

"Mulanya, ada pembeli meminta barang getah kemenyan tersedia di aplikasi Shopee, lalu karena banyak bertanya akhirnya kudaftarkan. Tidak menunggu lama, kudaftarkan ke Shopee hari ini, besoknya langsung dapat orderan," ungkapnya.

Melihat antusiasme para pembeli untuk berbelanja lewat Shopee, Devi semakin yakin kesuksesan tengah menantinya seiring semakin banyaknya pelanggan yang men-checkout getah kemenyan dari tokonya. Ia bahkan mengatakan pelanggannya lebih percaya dengan aplikasi Shopee.

"Pembeliku lebih percaya sama Shopee karena bisa dijadikan rekomendasi," tambah Devi.

Sulit saat Belum Jualan ke Shopee

Screanshot akun Shopee Devi (Dok pribadi)Screanshot akun Shopee Devi (Dok pribadi) Foto: Screanshot akun Shopee Devi (Dok pribadi)

Sebelum bergabung ke aplikasi Shopee, Devi telah merintis usah kemenyan secara manual atau melalui kontak WhatsApp, namun keberuntungan tidak selalu memihak dirinya. Ia mengalami berbagai kesulitan, mulai dari kepercayaan pembeli, ongkir mahal dan keterbatasan ekspedisi.

"Sebelumnya, aku mulai berjualan dengan manual dari Whatshapp, kesulitannya mulai dari ongkir lebih mahal sehingga pembeli malas berbelanja kemenyan dan dulu dalam satu minggu belum tentu ada satu pun yang beli. Disamping itu, kalau manual misalnya kita kirim pun resinya, pembeli takut barangnya tidak diterima," tambahnya.

Tidak hanya itu, Devi juga terkendala ekspedisi pengiriman yang terbatas, sedangkan ekspedisi kurir jauh dari tempatnya berkisar 15 Km dan kadang kurir susah menjemput. Akhirnya, ia harus menunggu cukup lama dan harus bersabar.

Dalam menjalankan usaha, banyak perubahan dirasakan Devi ketika bergabung ke Shopee, mulai dari lebih praktis mengirim barang ke seluruh Indonesia, pelanggan lebih percaya hingga barang bisa diklaim. Tidak hanya itu, kemudahan lainnya juga dia rasakan ketika ada promo ongkir membuat pembeli semakin bersemangat untuk berbelanja.

"Perubahannya, aku lebih gampang ngirim barang jualanku ke berbagai daerah di Indonesia mulai dari Aceh, Kalimantan, Jawa dan Bali. Orang-orang lebih gampang percaya dan praktis, kalau di Shopee juga bisa diklaim pembeli," terangnya.

Devi mengatakan meskipun usaha kemenyan baru dimulai November 2025 tahun lalu, penjualannya meningkat pesat. Ia menyebut kalau dulu yang order hanya satu, tetapi sekarang diperkirakan tiga sampai tujuh pesanan per minggunya.

"Bisnisku masih baru, dimulai bulan November 2025 tahun lalu. Penjualan meningkat pastinya karena di Shopee penjualanku sudah ada seratus transaksi. Dulu gak nyampe seratusan orderan, misalnya seminggu pun kadang nggak ada orderan, kalau sekarang diperkirakana dalam seminggu ada 7 orderan," ujar alumni Universitas Sumatera Utara (USU) itu.

"Perkembangan usahaku bukan lumayan lagi tetapi berubah, pendapatan kotor berkisar Rp 5 - 10 juta perbulan," imbuhnya.

Kisah Riska Jualan Kerajinan Tangan

Sementara itu, pelaku UMKM lainnya bernama Riska Aran Sasmita yang berasal dari Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang. Ia merupakan pelaku usaha yang menggeluti kerajinan tangan terbuat dari bahan kawat bulu, produk - produk Riska telah dipasarkan di aplikasi Shopee.

Riska mengatakan, awalnya ia diminta membuat paket hantaran dan berinisiatif belajar otodidak di sosial media. Ternyata karyanya banyak peminat, sehingga ia membuka usaha tersebut dan mempromosikannya di sosial media kemudian merambat ke aplikasi Shopee.

"Awal mulanya itu, gara-gara dulu ada sepupu minta tolong buatkan paket hantaran. Paket hantaran itu ada bunga-bunganya, saat itu untuk bunganya kebetulan nyari referensi. Kemudian, lewat tentang kawat bulu jadi kepikiran kenapa nggak buat bunganya dari kawat bulu," ungkap Riska kepada detikSumut, Minggu (30/8/2026).

Screanshot akun Shopee Riska (Dok pribadi)Screanshot akun Shopee Riska (Dok pribadi) Foto: Screanshot akun Shopee Riska (Dok pribadi)

Riska menambahkan, modal awalnya ia memulai usaha tersebut sebesar Rp 300 ribu, sudah termasuk bahan dan peralatannya. Hasil karya tersebut, bando karnaval merah putih, gantungan kunci, vas bunga, topper pulpen dan kreasi kerajinan tangan lainnya.

"Modal awal itu Rp 300 ribu, termasuk bahan kawat bulu dan peralatanya. Kebetulan waktu itu, masuk aplikasi Shopee ketika momen jelang 17 Agustus. Kepikiranlah buat kreasi bando rupanya peminatnya banyak," ungkapnya.

Ia juga menambahkan, perubahan ketika ia bergabung menjual barang tersebut ke Shopee, saat itu merasa jauh lebih banyak pembeli. Sedangkan penjualan offline juga tetap ada tetapi tidak sebanyak pembelian di aplikasi.

"Waktu itu lumayan penjualan di Shopee dan ada juga beli secara offline. Dulu belum terlalu banyak yang buat kerajinan tersebut, saat itu sekitar 200 - 300 pics laku terjual di aplikasi Shopee," ungkapnya.

Dukungan Pemerintah

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumatera Utara (Sumut), Yuliani Siregar, mengatakan pemerintah sangat mendukung pelaku usaha melakukan pemasaran lewat digital.

"Pemerintah sangat mendukung 100 persen pemasaran UMKM lewat digital. Semua kita permudah dan pembiayaan juga dibantu fasilitasi ke perbankan yang ada KUR," ucap Yuliani kepada detikSumut, Minggu (30/8/2026).

Yuliani juga menambahkan, tahun ini di Sumut ada 1.000 sertifikat halal diberikan secara gratis ke pelaku UMKM. Ia mengatakan, nantinya, di tahun depan rencananya akan ditambah.

"Tahun ini ada 1.000 sertifikat halal secara gratis kita luncurkan. Lalu, tahun depan arahan pak Gubernur Sumut berkisar 5000 sertifikat yang kita berikan. Tahun ini juga 400 lebih UMKM kita fasilitasi masuk pasar global," imbuhnya.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, memandang banyak pelaku UMKM belakangan ini menggunakan jejaring sosial miliknya sebagai wahana pemasaran, dan tidak sedikit juga turut bermitra dengan marketplace besar yang memang memiliki penetrasi pasar luas.

"Tren ini akan terus berkembang selama marketplace turut mensupport tumbuh kembang usaha milik pelaku UMKM," ucap Gunawan kepada detikSumut, Minggu (30/8/2026).

Gunawan juga memandang, marketplace besar punya keunggulan untuk membantu memperluas jaringan pemasaran, dan tentunya lebih efektif dibandingkan dengan pemasaran secara konvensional (offline).

"Bagi pelaku UMKM yang mengharapkan tumbuh kembang usahanya, maka salah satu jalan yang bisa ditempuh adalah dengan bermitra dengan perusahaan marketplace yang memang sudah mapan dan digunakan luas konsumen," imbuhnya.

Meskipun seperti itu, Gunawan menilai bisnis tidak sepenuhnya bergantung dengan satu solusi agar produk tetap diminati. Ia sebut, inovasi dan kreatifitas dibutuhkan agar pelaku UMKM mengikuti permintaan pasar seiring perkembangan zaman.

"Namun bisnis tidak sepenuhnya hanya bergantung pada satu cara saja, inovasi dan kreatifitas juga dibutuhkan disitu. Marketplace yang sudah mapan tentunya memiliki keunggulan di setiap rantai pasok yang dibutuhkan oleh pelaku UMKM maupun konsumen. Pada dasarnya pelaku UMKM membutuhkan jaringan pemasaran luas, tentunya akan diuntungkan jika menggunakan marketplace yang memang selalu mengupdate kemampuannya untuk penetrasi pasar," tambahnya.

Tidak hanya itu, ia juga memandang Shopee salah satu marketplace yang memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan banyak marketplace lainnya. Gunawan menegaskan yang penting pelaku UMKM juga memiliki ambisi untuk mendorong usahanya agar terus berkembang.

"Karena tidak sedikit juga pelaku UMKM yang sudah puas dengan kondisi usahanya saat ini, sehingga terkadang dengan sendirinya menutup diri untuk menggunakan ruang digital sebagai wahana pemasaran," ungkapnya.

Ia juga menegaskan, satu hal yang perlu diwaspadai adalah ketergantungan pada marketplace yang signifikan juga bisa membunuh kreatifitas pelaku UMKM. Marketplace kompetitif selalu memiliki kreatifitas yang turut dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha.

Menurutnya, pelaku UMKM juga harus terus diasah dengan meningkatkan literasi atau kemampuannya untuk memaksimalkan ruang digital. Disamping itu, Gunawan mengatakan marketplace bisa pro aktif dengan memberikan pelatihan bisnis ke pelaku UMKM.

"Selanjutnya, pemerintah juga memberikan pendampingan dengan mendorong kemampuan digital pelaku usaha. Pemenuhan administrasi seperiti birokrasi hingga mempermudah sertifikasi produk, menjadikan pelaku UMKM sebagai mitra pemerintah di ruang pengadaan hingga mendorong akses pembiayaan yang mudah bagi pelaku UMKM," pungkasnya.

Dukungan Shopee untuk UMKM

Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita mengatakan UMKM memiliki kedudukan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Hal tersebut, searah dengan upaya Shopee untuk meningkatkan UMKM berkelanjutan.

"Kami percaya UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, Shopee terus berupaya menghadirkan berbagai inovasi, program, dan fitur yang dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8/2026).

Dalam merealisasikannya, Shopee membuat beberapa program unggulan. Program tersebut yakni kampus UMKM Shopee dan Program Ekspor Shopee, yang nantinya akan membuka peluang lebih luas bagi UMKM mulai pasar lokal hingga global.

"Melalui inisiatif dan program UMKM seperti Kampus UMKM Shopee dan Program Ekspor Shopee, kami ingin membuka lebih banyak akses, peluang, dan dukungan bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing produk lokal serta menjangkau pasar yang lebih luas," tambahnya.

Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, mengatakan sejak digulirkan pada 2019 hingga catatan per Desember 2025, Program Ekspor Shopee telah sampai ke berbagai negara di dunia.

Melalui program tersebut, telah memasarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Amerika Latin. Lalu tiga destinasi ekspor teratas yakni ke Malaysia, Singapura, dan Filipina.

"Sejak diluncurkan pada tahun 2019, Program Ekspor Shopee telah sukses memasarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal ke berbagai negara. Melalui sinergi bersama pemerintah dan mitra strategis, kami terus berupaya untuk membuka akses pasar global," jelasnya.

Tidak hanya itu, Shopee juga meluncurkan Program Ekspor Shopee FLEXI pada Juli 2025. Hal tersebut untuk memberikan kebebasan kepada pelaku usaha dalam menyiapkan strategi untuk mengembangan UMKM ekspor.

"Inisiatif ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas bagi para Penjual untuk mengatur sendiri strategi pemasaran toko ekspor mereka. Melalui rangkaian langkah strategis ini, Shopee berkomitmen untuk mengakselerasi pertumbuhan UMKM Indonesia," ungkapnya.

Saat ini, jarak tidak menjadi penghambat untuk mengikuti Kampus UMKM Shopee Kelas Online. Dengan satu genggaman ponsel di tangan, semua pelaku UMKM dapat mengakses berbagai edukasi untuk belajar dan berkembang.

"Kami percaya setiap pengusaha UMKM berhak mendapatkan akses yang sama untuk belajar dan berkembang. Karena itu, melalui Kampus UMKM Shopee Kelas Online, kami menghadirkan berbagai pelatihan yang dapat diakses secara fleksibel dari mana saja," lanjutnya.

Berkat kemudahan dan kecanggihan zaman sekarang, pelaku usaha dapat dengan mudah menemukan program edukasi di aplikasi Shopee. Dengan adanya program tersebut, ia berharap pelaku UMKM terus belajar beradaptasi dengan perkembangan pasar dan memanfaatkan digital dengan maksimal.

"Harapannya, program ini dapat menjadi bekal bagi UMKM untuk terus bertumbuh, beradaptasi dengan perkembangan pasar, dan memanfaatkan peluang ekonomi digital secara optimal," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Kumpul Bersama Rakyat, Menteri UMKM Ajak Perkuat Solidaritas dan Satukan Semangat Kemerdekaan"
[Gambas:Video 20detik] (nkm/nkm)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads