Pemerintah akan melakukan efesiensi untuk menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap di bawah 3%. Salah satu anggaran yang bisa dikurangi dalam rangka efesiensi yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
Rencana efesiensi ini dilakukan sebagai respons atas eskalasi di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM). Lonjakan harga BBM imbas eskalasi di Timur Tengah berpotensi menimbulkan pembengkakan anggaran subsidi hingga Rp 210 triliun.
Meski begitu, pemerintah menyatakan tidak akan memangkas anggaran dari program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih. Pasalnya program-program unggulan dinilai sebagai investasi jangka panjang.
Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad menyebut dalam APBN 2026, subsidi bahan bakar diberikan berdasarkan asumsi harga minyak dunia di kisaran US$ 70 per barel, sedangkan saat ini sudah mencapai US$ 100 per barel. Padahal menurutnya setiap kenaikan harga US$ 1 per barel di atas asumsi APBN tadi, pemerintah berpotensi menggelontorkan tambahan belanja subsidi hingga Rp 7 triliun.
"Kita sudah dari katakanlah Rp 7 triliun tadi, kali katakanlah US$ 70 per barel asumsi APBN ke US$ 100 per barel, itu kan ada kenaikan US$ 30 ya. Jadi Rp 7 triliun kali 30 itu sudah Rp 210 triliun kita butuh," ungkap Tauhid dikutip detikFinance (22/3/2026).
Untuk itu menurutnya pemerintah secara strategis perlu mengatur siasat anggaran belanja apa saja yang akan dilakukan efisiensi berdasarkan skala prioritas.
Target Efisiensi
Prioritas efisiensi pertama berasal dari anggaran program Kementerian/Lembaga, barulah kemudian jika tidak cukup mau tak mau harus melakukan pemangkasan dari program-program prioritas Presiden.
"Saya kira mungkin anggaran-anggaran program itu masih bisa dikurangi lah yang MBG ataupun Kopdes. Menurut saya masih memungkinkan," terang Tauhid.
Simak Video "Video: 107 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan Mie Ayam MBG "
(astj/astj)