Daftar Negara yang Berhemat Akibat Perang di Timur Tengah

Daftar Negara yang Berhemat Akibat Perang di Timur Tengah

Eduardo Simorangkir - detikSumut
Senin, 23 Mar 2026 13:41 WIB
Cuplikan gambar ini dari video yang dirilis oleh Departemen Pertahanan AS pada 4 Maret 2026, menunjukkan apa yang menurut Departemen Pertahanan adalah rekaman periskop dari kapal selam Angkatan Laut AS yang menembaki dan menenggelamkan kapal perang I
Foto: (Departemen Pertahanan AS/AFP)
Jakarta -

Sejumlah negara mulai melakukan penghematan akibat perang Timur Tengah yang terjadi antara Iran dengam Amerika Serikat dan Israel. Perang itu sendiri membuat gangguan besar pasokan energi global.

Perang Timur Tengah itu membuat sejumlah negara mengalami kesulitan karena membayar energi lebih mahal atau mengurangi konsumsi.
Konflik ini menyebabkan jalur penting perdagangan energi seperti Selat Hormuz terganggu. Jalur ini biasanya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Serangan terhadap fasilitas energi seperti kilang minyak dan gas juga membuat pasokan energi global berkurang signifikan. Akibatnya, harga energi melonjak sekitar 50%, dengan harga minyak acuan menembus US$ 110 per barel dan beberapa jenis minyak Timur Tengah bahkan mendekati US$ 164 per barel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut krisis ini sebagai gangguan energi terburuk dalam sejarah, lebih parah dari embargo minyak tahun 1970-an.

"Anda tidak akan bisa mengatasi ini hanya dengan upaya penghematan. Yang akan terjadi adalah kenaikan harga yang cukup tinggi sehingga orang-orang berhenti mengonsumsi," kata kepala investasi Pickering Energy Partners, Dan Pickering, dikutip detikFinance dari Reuters.

ADVERTISEMENT

Sejumlah negara telah mencoba menahan lonjakan harga dengan melepas cadangan minyak darurat, total sekitar ratusan juta barel. Namun analis menilai langkah ini tidak cukup untuk menutup kekurangan pasokan jika konflik berlangsung lama.

Karena harga energi melonjak, banyak pemerintah mulai mengambil langkah penghematan, misalnya mengurangi penggunaan listrik dan bahan bakar, mendorong transportasi publik, hingga membatasi konsumsi energi industri.

Thailand, misalnya,memerintahkan pegawai negeri sipil untuk menghemat energi dengan menangguhkan perjalanan ke luar negeri dan menggunakan tangga alih-alih lift.

Bangladesh menutup kampus-kampusnya, sementara Sri Lanka memberlakukan penjatahan bahan bakar. China telah melarang ekspor bahan bakar olahan, dan rencana darurat energi pemerintah Inggris mencakup pengurangan batas kecepatan untuk menghemat bahan bakar. Banyak negara juga menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau mana saja untuk menghemat penggunaan BBM.

Krisis energi ini juga berdampak luas ke sektor lain. Gangguan perdagangan pupuk, yang sebagian besar melewati kawasan Teluk membuat harga pupuk naik 30-40% dan produksi di beberapa negara terpaksa dihentikan. Jika berlanjut, kondisi ini bisa menurunkan hasil panen global dan memperburuk pasokan pangan dunia.

Selain itu, konflik juga mengganggu rantai pasok penting seperti helium, obat-obatan, dan pengiriman logistik, yang berpotensi menekan industri dan menaikkan harga barang bagi konsumen.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Israel: Kami akan Terus Serang Iran-Hizbullah Sampai Ancaman Hilang"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads