BPMA Ungkap Bencana Pengaruhi Produksi Migas di Aceh

Aceh

BPMA Ungkap Bencana Pengaruhi Produksi Migas di Aceh

Agus Setyadi - detikSumut
Senin, 02 Feb 2026 16:21 WIB
Irjen Kementerian ESDM Komjen Yudhiawan memberikan keterangan kepada wartawan didampingi Kepala BPMA Nasri Jalal.
Foto: Irjen Kementerian ESDM Komjen Yudhiawan memberikan keterangan kepada wartawan didampingi Kepala BPMA Nasri Jalal (Foto: Agus Setyadi/detikSumut)
Banda Aceh -

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengungkapkan bencana yang melanda Tanah Rencong akhir November 2025 lalu juga berdampak terhadap fasilitas produksi migas. Perbaikan tengah dilakukan agar dapat beroperasi kembali.

"Musibah ini berpengaruh langsung terhadap produksi minyak yang ada di Aceh, baik yang di bawah BPMA ataupun di bawah SKK Migas. Karena seperti kita ketahui banjir ini melanda seluruh fasilitas produksi yang ada sehingga mengganggu operasi saat ini," kata Kepala BPMA Nasri Jalal kepada wartawan di sela-sela kegiatan Aceh Upstream Oil & Gas Supply Chain Management Summit 2026 di Gedung AAC USK Aceh, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, salah satu yang terdampak adalah produksi di PT Medco E&P Malaka di Aceh Timur. Pipa di sana ada yang mengalami kebocoran dan saat ini dalam proses perbaikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sejak 1 Februari 2026, Medco E&P Malaka sudah mulai kembali mengalirkan gasnya. Sementara untuk kondensat, saat ini dikirim langsung ke aset PHR Zona 1 di Pangkalan Susu, Sumatera Utara dengan truk.

Pengiriman akan dikirim kembali lewat Lhokseumawe setelah fasilitas dapat dipakai kembali. Nasri menyebutkan, kondensat saat ini untuk penggunaan dalam negeri.

ADVERTISEMENT

"Karena saat ini seperti kita ketahui bahwa Indonesia ini sudah keluar dari OPEC sehingga pesan bapak Presiden melalui Bapak Menteri ESDM kepada kami seluruh jajaran Menteri ESDM agar seluruh produk itu diutamakan untuk kebutuhan dalam negeri dan mengurangi impor BBM," jelas Nasri.

Irjen Kementerian ESDM Komjen Yudhiawan mengatakan, lifting migas tahun ini secara nasional mencapai 605 ribu barel perhari. Angka itu ditargetkan meningkat menjadi 1 juta barel perhari pada 2030 mendatang.

Yudhiawan juga mengungkapkan produksi migas Aceh juga terdampak bencana sehingga berpengaruh terhadap lifting. Saat perusahaan migas terdampak masih belum beroperasi.

"Khusus untuk di wilayah BPMA sendiri kalau dilihat dari target belum produksi sampai sekarang, tetapi kalau dilihat dari tahun kemarin ya itu sudah melampaui target. Capaiannya 104 persen," jelas Yudhiawan.



(agse/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads