Media sosial membuat siapa saja bisa melihat tren kecantikan terbaru dalam hitungan detik. Mulai dari kulit putih dan mulus, wajah simetris, hingga tubuh langsing, berbagai gambaran penampilan ideal terus muncul di linimasa. Tanpa disadari, gambaran itu bisa menjadi tolok ukur seseorang dalam menilai dirinya sendiri.
Foto dan video yang tampil di media sosial sering kali telah melalui proses penyuntingan, penggunaan filter, atau pengaturan pencahayaan. Namun, ketika konten semacam itu terus dilihat, penampilan yang telah dikurasi itu bisa dianggap sebagai gambaran kecantikan yang wajar dan harus dicapai.
Fenomena ini dibahas dalam penelitian Carelina Ephifania Siagian dan rekan-rekannya yang terbit 2026 di Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan. Peneliti menemukan media sosial berperan dalam membentuk standar kecantikan melalui representasi visual yang berulang dan penguatan algoritma.
Konten yang sering dilihat atau disukai pengguna dapat mempengaruhi rekomendasi konten berikutnya. Akibatnya, seseorang berpotensi terus melihat gambaran kecantikan yang serupa. Jika paparan tersebut berlangsung berulang, standar tertentu dapat terlihat seolah-olah merupakan ukuran umum kecantikan, meskipun tidak mewakili keberagaman bentuk tubuh, warna kulit, dan karakteristik setiap individu.
Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Di media sosial, perbandingan ini bisa terjadi ketika seseorang melihat penampilan selebritas, influencer, maupun pengguna lain yang dianggap lebih menarik.
Penelitian Syahrani Khairun dan rekannya terhadap 136 mahasiswi menemukan hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap standar kecantikan dan social comparison dengan kecenderungan self-objectification. Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang lebih banyak memandang tubuhnya sebagai objek yang akan dinilai berdasarkan penampilan.
Dalam kondisi ini, perhatian seseorang bisa lebih banyak tertuju pada bagaimana tubuh dan wajahnya terlihat di mata orang lain. Penampilan yang sebelumnya dianggap biasa saja kemudian dapat menjadi sumber kekhawatiran karena terus dibandingkan dengan standar yang dijumpai di media sosial.
Dampaknya juga terlihat dalam penelitian Eko Arik dan rekannya terhadap 120 remaja putri. Penelitian 2026 itu menemukan hubungan positif dengan kekuatan sedang antara penggunaan media sosial terkait standar kecantikan dan kecemasan penampilan sosial, dengan koefisien korelasi 0,331.
Temuan tersebut menunjukkan tingkat penggunaan media sosial terkait standar kecantikan yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat kecemasan penampilan yang lebih tinggi pula pada responden penelitian.
Bukan Berarti Media Sosial Selalu Berdampak Buruk
Dampak media sosial terhadap persepsi diri tidak selalu sama pada setiap orang. Kajian Siagian dan rekan-rekannya menjelaskan kemampuan individu dalam menyaring serta memaknai informasi ikut menentukan bagaimana seseorang merespons konten yang dilihatnya.
Konten kecantikan, misalnya, dapat menjadi sumber informasi mengenai perawatan diri. Namun, pengguna perlu membedakan antara merawat diri demi kesehatan dan kenyamanan pribadi dengan mengubah penampilan karena merasa harus memenuhi standar yang ditampilkan orang lain.
Salah satu yang dapat dilakukan adalah bersikap kritis terhadap konten visual di media sosial. Pengguna bisa mengingat bahwa foto atau video yang terlihat sempurna belum tentu menggambarkan kondisi sehari-hari secara utuh. Mengatur akun yang diikuti dan mengurangi paparan konten yang memicu perbandingan negatif juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga persepsi diri.
Pada akhirnya, kecantikan yang terus muncul di linimasa bukanlah ukuran tunggal untuk menilai seseorang. Penelitian-penelitian itu mengingatkan penting bagi pengguna untuk memahami bagaimana standar kecantikan terbentuk, menyadari kebiasaan membandingkan diri, dan tidak menjadikan penampilan orang lain sebagai satu-satunya patokan dalam melihat nilai diri sendiri.
Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Penghargaan Inovasi Birokrasi untuk Media Sosial DPR RI"
(nkm/nkm)