Transaksi digital kian marak di masyarakat, tetapi uang tunai atau uang kartal masih menjadi kebutuhan bagi masyarakat, terutama di pulau-pulau terluar di Sumatera. Keterbatasan jaringan internet dan akses layanan perbankan membuat pembayaran menggunakan uang fisik tetap diperlukan.
Bank Indonesia menyebut uang kartal atau uang tunai kini mencakup sekitar 22% dari uang yang digunakan untuk pembayaran secara nasional. Meski demikian, kebutuhan uang tunai masih tinggi di wilayah yang belum terjangkau layanan keuangan secara memadai.
"Ternyata kita tinggal 22% daripada uang yang dipakai beredar untuk pembayaran di Indonesia. Kebalik mungkin sekitar 30 tahun lalu semuanya pakai kartal," ungkap Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia M Anwar Bashori, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun begitu, Anwar menyebutkan bahwa uang kartal masih tetap dibutuhkan di daerah pelosok khususnya di wilayah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T). Ia menyebut ada sekitar Rp 6,5 miliar yang disalurkan menggunakan jalur laut di pulau Sumatera melalui Ekspedisi Rupiah Berdaulat.
"Uang tunai kita salurkan menggunakan kapal saat ini ada sekitar Rp 6,5 miliar untuk 4 pulau terluar seperti Pulau Sembilan, Pulau Kampai, Pulau Pusong, dan Pulau Sabang. Tapi yang UPK-nya kecil ya," ujarnya.
"Jadi harapannya supaya nanti di empat pulau ini uangnya kita ganti, jangan sampai ada yang lepek dan dapat merasakan uang baru," lanjut Anwar.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumut Ameriza M Moesa menyebut walaupun saat ini transaksi digital kian masif, namun kebutuhan uang kartal tetap dibutuhkan di pelosok. Hal ini berkaitan dengan banyaknya daerah blank spot dan keterbatasan akses.
"Akses layanan perbankan dan jaringan belum merata. Internet juga masih banyak daerah blank spot di berbagai daerah. Oleh karena itu, uang tunai masih dibutuhkan khususnya di daerah pelosok, baik untuk nelayan, petani, maupun pedagang," jelas Ameriza.
(ksr/nkm)
