Rocky Gerung: Kritik Harus Pakai Nalar Akademis, Bukan Buzzer

Rocky Gerung: Kritik Harus Pakai Nalar Akademis, Bukan Buzzer

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Sabtu, 24 Okt 2026 06:28 WIB
Rocky Gerung saat menjadi pembicara pada acara seminar di Unimed
Rocky Gerung saat menjadi pembicara pada acara seminar di Unimed Foto: Dok. Hafizna Hasibuan/detikSumut
Medan -

Anggota Wantimpres, Rocky Gerung, menegaskan kritik mahasiswa terhadap pemerintah harus disampaikan berdasarkan nalar akademis, bukan sekadar mengikuti pengaruh algoritma buzzer. Hal itu disampaikannya dalam seminar nasional bertajuk Algoritma Kesejahteraan: Menulis Ulang Kode Negara agar Bekerja untuk Rakyat di Universitas Negeri Medan.

Dalam sesi diskusi, Rocky menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan Medan terpapar algoritma buzzer. Menurutnya, mahasiswa memiliki kemampuan berpikir mandiri untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, jajaran menteri, kabinet, hingga anggota DPR.

Rocky menilai kemarahan mahasiswa terhadap suatu persoalan bisa menjadi hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar sikap kritis tersebut tidak terbentuk semata-mata karena pengaruh buzzer di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak mungkin Medan terpapar algoritma buzzer. Tadi dibuktikan bahwa kemarahan mahasiswa itu masuk akal. Cuma masalahnya, jangan kemarahan itu dihasilkan oleh algoritma buzzer. Mahasiswa punya otak sendiri, kemampuan untuk mengkritik Presiden Prabowo, menterinya, kabinetnya, segala macam itu, termasuk anggota DPR, dan itu yang memungkinkan kita bersikap-cakap," ujar Rocky, Jumat 23/10/2026.

Ia kemudian menekankan pentingnya mahasiswa membangun kritik melalui pemikiran yang mandiri dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurut Rocky, lingkungan kampus seharusnya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertanya, menyampaikan pendapat, serta menguji gagasan tanpa harus merasa takut atau menunggu izin.

ADVERTISEMENT

"Jadi, sekali lagi algoritma bernegara artinya hasilkan kritik melalui nalar akademis, bukan nalar buzzer, bukan nalar amplop, bukan nalar feodalisme. Mahasiswa enggak perlu izin bertanya, enggak ada, tanya saja itu" katanya.

Rocky juga menyoroti pentingnya keterbukaan dalam diskusi akademik. Ia mengaku senang berada di Medan karena dapat menerima kritik dari peserta seminar. Baginya, percakapan akademis tidak seharusnya dipenuhi basa-basi, melainkan memberikan ruang bagi setiap pihak untuk menyampaikan dan menanggapi argumen.

"Jadi, sekali lagi saya senang ada di Medan, ada keterbukaan, enggak ada basa-basi mereka kritik saya kan. Tapi jangan juga saya basa-basi untuk tidak membalas kritik mereka, itu namanya percakapan akademis, ya. Di dalam percakapan akademis yang dipentingkan adalah argumen bukan sentimen" tuturnya.

Sementara itu, Rektor Unimed Baharuddin menilai kebebasan berpikir mahasiswa perlu ditumbuhkan, terutama dalam lingkungan akademik. Ia menekankan bahwa mahasiswa tidak hanya perlu berani mengkritik, tetapi juga harus mampu menyampaikan pendapat berdasarkan data dan fakta yang akurat.

"Dalam berpikir, apalagi di tataran akademik, mahasiswa tidak boleh dibatasi. Namun, kritik yang disampaikan harus berdasarkan data dan fakta yang akurat, bukan informasi yang tidak valid. Kami berharap mahasiswa tidak hanya mampu mengidentifikasi persoalan, tetapi juga berpikir kritis dan konstruktif untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut," ujar Baharuddin.

Baharuddin juga menekankan peran perguruan tinggi dalam membentuk mahasiswa yang mampu mengenali persoalan, melakukan penelitian, dan merancang solusi. Menurutnya, proses pembelajaran di kampus tidak cukup hanya berorientasi pada teori, tetapi juga perlu mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan atau proyek yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.

Seminar nasional tersebut mengangkat tema algoritma kesejahteraan dan penyelenggaraan negara yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Melalui forum itu, mahasiswa mendapat ruang untuk berdiskusi mengenai kritik, kebebasan berpikir, dan peran akademisi dalam mengawasi kebijakan publik.

Pandangan Rocky dan pihak Unimed sama-sama menempatkan nalar akademis sebagai bagian penting dalam diskusi. Kritik diharapkan tidak berhenti pada ungkapan ketidakpuasan, tetapi disampaikan dengan argumentasi yang jelas, didukung fakta, dan diarahkan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads